Sam si Programmer (Part 2)


Artikel ini sambungan dari https://ariefsam.wordpress.com/2011/05/06/sam-si-programmer/

Sam mendengar tangisan Cahaya, pelan-pelan Sam membuka matanya, samar-samar ia melihat wajah Cahaya. Sedikit demi sedikit wajah manis itu semakin jelas terlihat olehnya. Terbayang bagaimana dahulu kisah manis mereka berdua mewarnai hari-harinya. Sam tersenyum, hingga kemudian wajah manis itu kembali menjadi samar kembali. Sam tak sadarkan diri….

*gelap*

***

Mata itu mencoba terbuka, melihat ke sekitar. Dengan sedikit berusaha, akhirnya pandangannya jelas. Terdengar olehnya suara alat deteksi nadi yang khas. Ia mencoba memahami sedang berada dimana dirinya. Sam melihat ke kiri, ke arah pintu, terlihat olehnya tulisan “HCU”. Setelah itu ia menurunkan pandangannya, Sam melihat seorang gadis yang tertidur pulas di dekat bahu kirinya, Cahaya. Sang gadis terbangun, menaikkan kepalanya dan melihat ke arah Sam.

“Kamu sudah bangun”, ujar Cahaya dengan senyum dan nada manja.

“Iya… kok kamu ada di sini?”, tanya Sam.

“Ya nengokin kamu lah Sam”, jawab Cahaya dengan girang.

==================================================
Penulis lagi capek… udahan aja ya cerpennya… Endingnya gini… mereka balikan lagi…. terus nikah deh….

Ust. Anis Matta Bicara soal Uang


BismillahirrahmaanirrahiimIkhwan dan Akhwat sekalian,

Alhamdulillah kita dipertemukan oleh Allah di pagi hari ini, walaupun kemarin saya ragu-ragu, apakah saya bisa hadir hari ini atau tidak. Istri saya sakit demam berdarah dan dirawat di rumah sakit hingga hari ini. Alhamdulillah, hari ini ada perbaikan sedikit dan bisa ditinggal. Selain itu, rasanya sudah rindu sama antum semuanya karena cukup lama tidak kesini. Sebenarnya saya punya rencana kunjungan ke sini pada bulan Januari yang lalu dalam rangkaian jaulah ke 13 DPW bersama 13 pengurus Bidang Kaderisasi dan Bidang Pembinaan Wilayah. Rencana itu dibatalkan karena saat itu sedang musim pesawat jatuh, jadi ada 8 DPW yang kita pending perjalanannya termasuk ke kota Pekan Baru ini.

Ikhwah sekalian.Pagi ini kita bicara tentang uang. Sudah lama sekali saya mengusulkan bagian kurikulum di departemen kaderisasi untuk memasukkan pokok bahasan tentang uang. Gagasan-gagasan itu mulai muncul ketika saya dahulu berada di awal dakwah ini. Salah satu pekerjaan yang saya lakukan adalah Lajnah Minhaj, di Bidang Kaderisasi dulu, bersama Kang Aus. Saat itu, saya ikut menyusun beberapa Materi Tamhidi H1, H2. Kita memang tidak pernah berfikir untuk menyusun satu materi tentang uang karena yang ada di benak kita, bahwa bagian-bagian dari tarbiyah itu adalah tarbiyah ruhiyah, tarbiyah fikriyah dan tarbiyah jasadiyah.

Ketika kita membuat partai, kita menambah sedikit yaitu materi tarbiyah siyasiyah.Jadi kalau wasilah dari tarbiyah ruhiyah itu banyak, ada Lailatul Katibah juga mutaba’ah yaumiyah. Wasilah tarbiyah fikriyah juga banyak ada tatsqif dan macam-macam. Tarbiyah jasadiyah ada latsar, ada mukhoyam. Tarbiyah Siyasiyah sudah dengan sendirinya karena ada wasilah berupa partai. Tapi kita semuanya menghadapi suatu benturan realita yang disebabkan karena ada missing link dalam sistem berfikir kita.

Ada satu kosakata yang tidak masuk ke dalam benak kita padahal itu sangat menentukan masa depan kita yaitu uang. Jika ada yang bertanya kenapa kita miskin maka jawabannya karena memang kita tidak belajar masalah uang.

Ikhwah sekalian

Salah satu gejala benturan budaya yang sering kita lihat muncul bersama munculnya orang-orang setengah kaya baru. Tapi itu lebih disebabkan karena bibit-bibit kemiskinan itu memang ada dalam diri kita, ada di lingkungan kita, bahkan ketika kita mulai membuat partai. Padahal kita belum kaya dan memang belum kaya. Apabila kita memakai standar Kiyosaki, masuk dalam tahap aman pun belum. Tapi sudah dianggap kaya hanya karena sedikit beda dengan teman-teman ikhwah yang lain. Kita dianggap kaya karena memiliki mobil padahal mobil itu kebutuhan pokok dalam fiqih Islam. Kita juga dianggap kaya karena sudah bisa bangun rumah, padahal itu indikator dari garis kemiskinan.

Rasulullah mengatakan “Cukuplah bagi seorang Muslim itu bahwa dia punya sebuah rumah dan seorang pembantu.” Jadi, rumah itu sama dengan pakaian. Hanya saja, di lingkungan kita, banyak yang mempunyai anggapan, orang disebut kaya kalau sudah punya rumah.

Ikhwah sekalian,

Oleh karena itu, banyak sekali yang bolong dalam tsaqafah kita tentang uang. Kita bukan hanya salah membuat persepsi-persepsi itu, tetapi juga terkadang mempunyai kecenderungan anti uang. Kalau istilah almarhum Ust Rahmat Abdullah ikhwah itu sabar menderita tapi tidak sabar melihat orang lain lebih kaya. Makanya mudah muncul gosip di kalangan orang yang punya sedikit kelonggaran secara finansial, apalagi kalau sebab kelonggaran finansialnya itu karena dia menjadi anggota dewan.

Jadi pada tahun 1999, saya jadi ketua Tim Khusus. Pada waktu itu sebagai Sekjen saya tahu persis di mana letak daerah kuatnya PKS kalau saya mau jadi anggota dewan. Ketika itu saya dicalonkan dari Bandung, Jakarta dan Sulawesi Selatan atas usul DPW masing-masing. Nah, pilihan tertinggi jatuh pada Sulawesi Selatan. Waktu itu saya belum mau jadi anggota dewan karena saya belum punya rumah dan mobil. Saya tidak mau bila nanti ada persepsi bahwa saya punya mobil dan rumah karena jadi anggota dewan. Oleh karena itu saya pilih Sulawesi Selatan. Jika saya pilih Bandung atau Jakarta pasti saya terpilih jadi anggota dewan pada tahun 1999.

Saya mengerti persepsi-persepsi, gosip dan fitnah tentang harta di kalangan kita itu banyak disebabkan tsaqafah yang bolong tentang uang. Jadi, kita bukan hanya tidak berbakat jadi kaya tapi juga tidak senang dengan orang kaya dan cenderung anti kekayaan.Kapan saatnya kita mulai mengalami benturan keuangan. Yang pertama setelah kita punya anak. Dahulu waktu saya kuliah, kita dimotivasi untuk cepat menikah oleh para murabbi kita, dengan satu alasan kemaksiatan sudah merajalela di sekitar kita, daripada kita berzina lebih baik kita menikah. Kalau kita berargumen lagi bahwa belum ada pekerjaan karena kita masih kuliah, jawabannya adalah: tawakkal ‘alallah, innallaha Ghoniy, seluruh alasan-alasan aqidah dikerahkan untuk mendorong kita nikah.

Sebagian besar angkatan saya menikah di tahun pertama waktu kuliah. Saat itu saya belum menikah. Di tahun kedua lebih banyak lagi yang menikah, saya belum menikah. Di tahun ketiga lebih banyak lagi yang menikah. Saya termasuk yang telat menikah pada waktu itu. Tapi kemudian kita menemukan fakta bahwa ikhwah-ikhwah yang menikah semasa kuliah itu sebagian besar angka pelajarannya jeblok karena disibukkan dakwah juga harus mencari ma’isyah.

Saya menikah di tahun keempat setelah angka saya stabil karena naik satu point lagi. Dosen saya sampai mengatakan, kalau kamu ambil Master, menikah satu kali lagi.

Ada ikhwah yang mengatakan kepada saya, Masya Allah, antum ini merencanakan sesuatu dengan detail. Saya bilang antum punya semangat tapi tidak punya rencana yang bagus.

Jadi kita semua mulai mengenal uang dan mempunyai persepsi bahwa uang itu perlu ketika anak kita menangis. Ketika saya datang ke calon mertua saat itu beliau anggota DPR dan sudah 17 tahun menjadi salah satu petinggi GOLKAR untuk melamar, dia bertanya ke saya: “Anak saya mau dikasih makan apa?” Saya bilang mungkin saya tidak share di rumah bapak tapi insya Allah tidak makan batu. Kemudian dia bertanya lagi. “Pendapatan kamu berapa?” Saya jawab, saya ada beasiswa 200 ribu perbulan. “Selain itu apa iagi?” Saya bilang tidak ada. “Masih kuliah”. Tapi waktu itu istri saya mengancam, kalau tidak kawin dengan saya, dia tidak mau kawin lagi. Akhirnya kita menikah juga. Jadi kita ini, ikhwah learning by accident. Belajardari benturan.

Ikhwah sekalian,

Rasanya saya sendiri sebenarnya tadinya tidak pernah tertarik mengenal uang lebih jauh. Karena 6 tahun saya di pesantren juga tidak pernah belajar uang. Lima tahun setengah kuliah di LIPIA Fakultas Syari’ah juga tidak pernah belajar uang kecuali 1 bab dalam pelajaran Fiqh yaitu kitab zakat, itupun dalam orientasi Amil Zakat, tidak ada orientasi menjadi muzakki. Saya mulai tertarik mengenal uang seteiah mengalami benturan yang di awal tadi saya ungkapkan, juga benturan ketika saya di Sekjen. Setelah jadi Sekjen itulah saya mulai menilai ada suatu masalah besar yang akan kita hadapi kalau masalah-masalah ini tidak selesai. Sejak itulah saya mempelajari hal ini.

Sebelumnya, meskipun saya mengajar Ekonomi Islam di Ul, banyak belajar dan membaca masalah-masalah ekonomi, juga banyak membaca buku-buku bisnis dan bergaul dengan orang-orang bisnis, saya belum seberapa tertarik secara langsung dan punya perhatian secara khusus terhadap masalah uang.

Ketertarikan itu mulai muncul setelah mengalami benturan betapa sulitnya kita mendanai aktifitas kita setelah kita terjun di perpolitikan ini. Ikhwah sekalian. Saya ingin bicara 3 point supaya kita iebih terarah dalam soal uang.

Pertama. Mengapa Islam menyuruh kita kaya

Kedua, Mencari penjelasan tentang mengapa kita miskin

Ketiga, Bagaimana kita mulai merekontruksi kehidupan finansial kita.

Ibnu Abid Dunia menjelaskan beberapa alasan tentang mengapa kita semua diperintahkan untuk menjadi kaya dalam Islam itu.

Alasan pertama, karena harta itu tulang punggung kehidupan. Makanya orang kalau punya harta punggungnya tegak. Kalau tidak punya harta punggungnya rada bungkuk sedikit. Antum lihat orang-orang Amerika kalau datang ke sini tegap-tegap semua kan, karena punya duit. Pejabat-pejabat keuangan kita kumpul di CGI tunduk-tunduk semua, karena mau pinjam duit. Allah SWT mengatakan “Janganlah kamu berikan harta-harta kamu kepada orang-orang bodoh (orang-orang yang tidak sehat akalnya) yaitu harta yang telah Allah jadikan kamu sebagai yang membuat punggung tegap.” Jadi hidup kita tidak normal begitu kita tidak punya uang. Kita pasti punya banyak masalah begitu kita tidak punya uang.

Alasan kedua, peredaran uang itu adalah indikator keshalehan atau keburukan masyarakat. Apabila uang itu beredar lebih banyak di tangan orang-orang jahat maka itu indikasi bahwa masyarakat itu rusak. Apabila uang itu beredar di tangan orang-orang shaleh maka itu indikasi bahwa masyarakat itu sehat. Masyarakat Indonesia ini rusak salah satu indikasinya karena orang-orang shalehnya sebagian besar adalah para fuqara wa masakin. Ahlul masjid di negeri ini terdiri atas fuqara dan masakin. Bahkan sebagian besar orang mungkin mengunjungi masjid bukan karena benar-benar ingin ke ma’sjid, melainkan karena tidak punya tempat untuk dipakai mengaktualisasikan diri. Antum lihat orang-orang tua yang datang ke masjid biasanya orang yang kalah dalam pergulatan sosial. Kalau dia tentara, biasa setelah pensiun baru dia ke masjid. Kalau dia pedagang biasanya setelah dia bangkrut baru dia ke masjid.

Rasulullah SAW mengatakan “Sebaik-baik uang itu adalah uang yang beredar di tangan orang-orang shaleh”. Jadi, apabila kita yang ada di sini tidak mengendalikan uang yang ada di Riau, itu adalah tanda-tanda yang tidak bagus. Kenapa? Karena kalau uang itu berada di tangan orang shaleh maka uang itu akan mengalir di saluran-saluran yang baik. Kalau ibu-ibu di sini dibagikan Rp 1 Milyar, kira-kira uang itu akan diapakan. Buat daftar belanjanya. Antum bisa lihat semuanya itu belanja kebaikan. Pertama, pasti akan dipakai untuk potongan buat partai. Coba lihat anggota DPR, begitu jadi anggota Dewan yang pertama potongan buat partai.Waktu itu ada teman dari Golkar dan PPP, “Itu dana konstituen diapakan?” Kita jawab itu tidak lewat kita, melainkan langsung ke Dapil (Daerah Pemiiihan). Uang yang masuk ke tangan orang shaleh pasti mengalirnya di kebaikan juga. “Kalau gajinya berapa dipotong? Kalau kita di Golkar cuma 2,5 juta per bulan dipotong.” Kalau di PKS itu bisa 50 sampai 60% di potong. Jadi, antum lihat daftar belanjanya orang shaleh.

Kedua, untuk rihlah, kemungkinan itu pergi umrah atau menghajikan keluarga atau naik haji sendiri.Bapak-bapaknya pun kalau punya uang 1 Milyar, tidak jauh-jauh dari situ juga: infaq buat partai, menyenangkan keluarga, dan operasional pribadi untuk dakwah pribadinya juga. Semuanya di jalur kebaikan. Bila ada kenikmatan, tidak mungkin dia pergi judi. Tidak mungkin juga dia pergi ke tempat prostitusi, paling-paling dia cari jalur halal. Tapi coba sebaliknya, kalau uang itu beredar di tangan orang jahat, larinya juga kepada kejahatan.

Salah seorang saudara saya cerita, waktu itu ada seorang kaya sangat kaya di daerah Indonesia. Orangnya masih hidup sekarang. Dia punya private jet. Saking kayanya, dia suka main judi ke London. Pesawat private jet itu berjenis Boeing. Jadi kalau pergi dia itu membawa rombongan, biasanya dia parkir disana 1 minggu atau 2 minggu. Itu kalau parkir, kan bayar. Selama dia main judi, dia persilahkan teman-temannya yang ingin pakai pesawatnya, seperti layaknya meminjamkan mobil. Sekali main, dia biasanya bisa rugi sampai 5 juta dollar, meskipun kadang-kadang untung 8 juta dollar. Sekali waktu mereka main ke sana, sudah beberapa hari kangen dengan Nasi Padang. Dia bilang ke pilotnya tolong ke Singapore beli Nasi Padang terus balik lagi ke London. Begitulah cara mereka menggunakan uang.Kalaupun orang kaya itu muslim, tidak berjudi, tapi dia tidak punya visi dakwah dan tidak hidup untuk satu misi besar dalam hidupnya, dia pasti akan menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi, seperti perhiasan dan seterusnya.

Saya punya kawan, kalau dia pakai seluruh perhiasannya kira-kira sekitar 2 juta dollar di badannya, cincinnya 1 juta dollar. Mobilnya 1/2 juta dollar, jam tangannya bisa sampai 2 milyar. Adalagi temannya kira-kira punya 200-an jam tangan. Sebuah jam tangan itu harganya kira-kira 2 milyar.Lebih buruk lagi, kadang-kadang orang kaya yang tidak baik memakai uangnya untuk memerangi kebaikan. Itulah yang terjadi ketika orang-orang Yahudi memegang kendali keuangan dunia. Maka dari itu, menjadi kaya itu bagi kita adalah satu keharusan, untuk mengembalikan keseimbangan sosial, kehidupan ditengah-tengah kita.

Ketiga, terlalu banyak perintah syariah yang hanya bisa dilaksanakan dengan uang. Antum lihat 5 rukun Islam. Syahadat tidak pakai uang, sholat tidak pakai uang, puasa tidak pakai uang tapi zakat dan haji pakai uang. Kalau 200 ribu orang umat Islam Indonesia tiap tahun pergi haji. Rata-rata mengeluarkan 5000 dollar, coba antum kalikan berapa banyaknya uang yang beredar untuk melaksanakan satu ibadah. Belum lagi jihad. Jadi kita tidak bisa berjihad kecuali dengan uang. Misalnya kita di lndonesia sekarang mau pergi ke Palestina untuk pergi perang tenaga kita tidak diperlukan karena tenaga sudah cukup dengan ada yang disana. Rasul mengatakan: “Siapa yang menyiapkan seorang bertempur maka dia juga sudah dapat pahala perang”. Jadi banyak sekali perintah-perintah Islam yang memerlukan uang. Waktu Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, di antara hadits-hadits pertama yang beliau sampaikan pada waktu itu adalah Afsussalam wa ath’imu tho’am. Jadi mentraktir itu tradisi nabawiyah. Sering-seringlah mentraktir karena itu perintah Nabi, dan ini turunnya di Madinah pada saat menjelang mihwar daulah. Kira-kira di jaman kita inilah, di mihwar dakwah kita sekarang. Washilul arham dan sambung tali shilaturahim.

Antum akan melihat nanti di akhir penjelasan saya nanti bahwa cirri-ciri orang maju itu salah satunya adalah kalau belanjanya dalam 3 hal lebih besar daripada belanja kebutuhan lauk-pauknya, salah satunya belanja komunikasi. Jadi kalau biaya pulsa kita tinggi itu indikator yang baik, itu artinya silaturahim kita jalan. Jangan missed call, suruh orang telpon balik.

Keempat, karena harta itu adalah hal-hal yang dibangga-banggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Antum akan lebih berwibawa dan didengar orang kalau punya uang. Apabila tidak punya uang, biasanya kita juga biasanya jarang didengar oleh orang. Misalnya dalam keluarga. Antum bersaudara ada 7 orang. Kalau kontribusi finansial antum dalam keluarga itu tidak banyak dan bila antum satu-satunya da’i dalam keluarga, dakwah antum juga kurang didengar oleh keluarga. Karena di samping ingin mendengarkan nasihat yang baik orang juga ingin mendapatkan uang yang banyak. Hadiah-hadiah pada hari lebaran, infaq-infaq dan seterusnya dan itu biasanya melancarkan dakwah kita.

Saya hadir pada suatu waktu di sidang Ikatan Anggota Parlemen Negara-negara OKI. Setiap kali ada waktu bertanya yang paling pertama diberi kesempatan bertanya itu utusan dari Arab Saudi, sedangkan utusan dari negara miskin seperti Maroko atau Tunisia biasanya tidak dapat giliran, kalau bukan sendiri yang angkat tangan. Masalah harta ternyata juga berpengaruh pada hal-hal seperti itu.

Pada tahun 1994 saya ke Jerman. Dua tahun baru selesai kuliah, di sana saya bertemu dengan salah seorang ikhwah pengusaha yang punya beberapa supermarket di sana. Dia datang menemui saya memakai Mercy. Saya protes kepada dia dengan semangat dakwah dan jihad, antum itu tega pakai Mercy, saudara-saudara antum di Palestina di sana masih berjuang, antum hidup di Jerman ini pakai Mercy bagaimana ceritanya. Dia bilang nanti saya jelaskan, antum ikut saya saja dulu.

Saya diajak keliling supermarketnya dulu. Orang itu memang kaya. Sudah keliling dia bilang, di Jerman ini kalau kau ingin ketemu seorang direktur, begitu kamu parkir mobil nanti direktur itu suruh sekretarisnya tengok dia itu pakai mobil apa. Jika kau tidak pakai Mercy nanti sekretarisnya bilang direktur sedang tidak ada. Kalau kau pakai Mercy kau disambut baik-baik oleh mereka. Mercy ini wajib di sini.Itu hal-hal yang dibangga-banggakan oleh manusia. Dan itu berkali-kali disebutkan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu sebagai Muslim saya ingin didengarkan orang, apalagi kita sebagai da’i kita perlu punya wibawa di depan orang. Sebagian dari wibawa itu juga dibentuk oleh kondisi finansial kita.

Ulama-ulama kita juga meriwayatkan bahwa ternyata di antara hal-hal yang disenangi oleh wanita kepada laki-laki salah satunya adalah uangnya. Perempuan itu katanya menyenangi pada laki-laki kalau dia lebih pintar daripada si perempuan, kalau dia lebih kaya daripada perempuan, lebih kuat daripada perempuan. Dan kepemimpinan itu kan diberikan kepada laki-laki salah satu sebabnya karena kewajiban memberlkan nafkah itu. Kalau kita ingin berwibawa di depan istri tolong kewajibannya ditunaikan dengan sempurna. Itu akan menaikkan wibawa kita depan Istri. Seorang istri itu tidak hanya membutuhkan seorang suami yang romantis tapi juga seorang suami yang romantis realistis. Ada seorang akhwat berkata kepada saya, saya sebenarnya tidak materialistis tapi masalahnya kita realistis karena kita tidak bisa hidup tanpa materi. Dan kalau materi kita sedikit maka hidup kita juga tidak akan nyaman. Sedikit banyak itu juga penting.

Kelima, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang itu bisa bahagia di dunia. Jangan lagi pernah bilang “biar miskin asal bahagia.” Sekarang perlu kita balik, “biar kaya asal bahagia.”

Saya ingat guru saya waktu SD selalu mencari kamuflase, bahwa walaupun kita miskin tetap bisa bahagia. Memang bisa, tapi susah. Adalagi yang bilang “Uang tidak bisa membeli cinta”. Memang tidak bisa, tapi kalau kita jatuh cinta dan punya uang itu lebih enak.

Rasulullah SAW realistis sekali ketika dia mengatakan bahwa di antara yang membuat orang itu bahagia adalah: Pertama, Istri yang sholehah. Kedua, rumah yang luas, dalam hadits lain disebutkan kamar-kamarnya banyak. Menurut Syeikh Qordlowy yang disebut kamar-kamar itu minimal enam kamar. Satu buah kamar untuk suami istri, sebuah kamar untuk anak laki-laki, sebuah kamar untuk anak perempuan, sebuah kamar untuk pembantu, dua buah kamar lainnya untuk kerabat suami dan istri yang datang menginap di rumah. Itu 6 kamar tidak termasuk dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, perpustakaan keluarga dan musholla. Kelanjutan dari hadits itu, dan kendaraan yang nyaman. Antum perhatikan Rasulullah mengatakan rumah dan kendaraan. Rumah itu adalah indikator stabilitas, kendaraan itu adalah indikator mobilitas. Rasulullah mengatakan kendaraan yang nyaman bukan sekadar kendaraan. Naik angkot itu juga kendaraan tapi belum tentu nyaman, tapi kalau ada sedan yang empuk sehingga kita bisa rehat, itu lebih bagus. Pulang mengisi Liqa’, kalau kendaraannya nyaman kan sedikit mengurangi kelelahan. Itu juga periu garasi.

Jika suaminya pengurus DPW, istrinya pengurus DPW, maka masing-masing perlu kendaraan juga. Kalau anaknya 7 siapa yang antar anaknya sekolah, jadi minimal perlu 3 mobil.Waktu saya tidak punya mobil, saya punya motor. Anak saya sekolah di Al-Hikmah, jadi kalau pulang diantar sama keponakan saya, anak saya diikat, takut kalau tidur sewaktu-waktu bisa jatuh dari motor. Saya bilang saya dosa kalau anak saya sampai meninggal. Akhirnya saya menelepon teman saya, “Tolong sediakan mobil untuk saya.” Itulah pertama kali saya punya mobil. Dosa kita, kasihan anak itu jatuh dari motor. Setengah mati kita pupuk-pupuk, kita lahirkan dengan baik, tapi mati karena kecelakaan begitu.

Kalau suaminya pengurus DPW dan istrinya aktif di Salimah atau di Pos Wanita Keadilan, kan perlu mobilitas juga. Masa suaminya pergi pakai mobil, sedangkan istrinya pergi rapat ke mana-mana sambil gendong anak. Dia sudah hamil 9 bulan, merawat anak, malam tidak tidur. Kita zhalim juga terhadap istri kalau kita tidak memberikan hal-hal yang membuat dia nyaman dalam kehidupan. Untungnya waktu kita menikah dulu banyak akhwat kita yang tidak tahu hadits ini. Padahal dalam banyak pendapat di berbagai mazhab misalnya di madzhab Imam Syafi’i, apalagi Imam Malik, kewajiban wanita itu yang sebenarnya hanya melayani suami dan mendidik anak, sedangkan pekerjaan rumah tangga, mencuci dan seterusnya, itu tidak termasuk dalam kewajiban wanita. Qiyadah-qiyadah akhwat mengikuti daurah tingkat nasionat kemarin di Jakarta. Coba bayangkan akhwat-akhwat kita sebagian besar sarjana. Waktu kuliah dia direkrut kan salah satu alasannya karena dia anashirut taqyir dan otaknya brilian.

Banyak akhwat kita Indeks Prestasinya 4,1, begitu 10 tahun menikah, dia sudah tidak nyambung lagi dengan suaminya kalau bicara, karena dia mengalami stagnasi intelektual. Tiba-tiba dia mengerjakan semua pekerjaan pembantu rumah tangga, dia melahirkan juga, melayani suami juga, memasak juga, mencuci juga dan kadang-kadang kita terbawa oleh romantika perjuangan, rasanya heroik melihat istri mencuci, suami pulang dakwah dalam keadaan lelah, istri di rumah mencuci, mengepel lantai.

Sepuluh tahun kemudian kita di elus-elus oleh istri, kita pikir sedang di pijiit, padahal hanya di elus-elus karena tangannya dipakai untuk mencuci, jadi tangannya sudah bukan tangan ratu. Sementara suami pegang pulpen, pegang kertas karena sibuk mengisi halaqah, sedangkan pekerjaan yang kasar-kasar dikerjakan oleh istri. Sudah saatnya pekerjaan-pekerjaan begitu kita delegasikan kepada mesin, jangan buang waktu di dapur, di tempat mencuci, delegasikan kepada mesin. Kita ini orang-orang pilihan dari umat kita. Berapa banyak orang yang sarjana di negeri ini, sedikit. Makanya kalau Capres syaratnya S-2 calonnya juga nanti sedikit. Saya tidak setuju kalau capres itu syaratnya S-1, tamat SD pun bisalah. Sebagian besar orang ikut. Jadi yang bisa merasakan pendidikan tinggi itu barang elit di negeri ini. Jadi kalau akhwat kita yang sarjana itu setelah nikah disuruh jadi pembantu rumah tangga atas nama kesetiaan, ketaatan, cinta dan sejenisnya maka kita telah berbuat zalim terhadap SDM kita sendiri. Mungkin akhwat kita itu sabar-sabar, dia menerima keadaan. Tetapi walaupun dia menerima keadaan kita kehilangan potensi, kita kehilangan umur-umur terbaik. Sebenarnya kalau dipacu untuk dakwah, untuk kepentingan lebih besar, lebih strategis, faedah yang didapatkan pun akan jauh lebih besar. Waktu kita ini tidak akan cukup mengerjakan hal-hal tersebut, maka belilah waktu orang lain. Hitung-hitung kalau beli tenaga pembantu kita buka lapangan kerja, kita bukan hanya mendelegasikan pekerjaaan kita juga buka pekerjaan bagi orang lain.

Kira-kira itulah 5 alasan mengapa kita itu perlu kaya. Memang, walaupun kita miskin kita masih bisa bahagia, tapi itu jauh lebih susah. Bahkan terkadang kekayaan itu lebih mendekatkan orang kepada Allah SWT dibanding kemiskinan. Makanya Rasul mengatakan tentang minum susu, makan habbatussauda’, madu. Coba kalau antum, misalnya, tidur di atas kasur yang empuk dalam ruangan yang ber-AC, tidur 2 jam itu bisa sangat nyenyak. Apalagi minum susu hangat sebelum tidur. Bangun pagi minum madu campur habatussauda.Saya kira kita perlu memperbaiki dan melihat kembali pemahaman keagamaan seperti ini secara benar. Sehingga kita jangan menganggap kemewahan itu justru melelehkan orang tapi bikin orang nyaman.

Inilah 5 alasan mengapa kita harus kaya. Sekarang saya ingin lebih jauh menembus kembali mengapa kita miskin selama ini. Sebabnya kita miskin adalah: Pertama, karena kita memiliki pemahaman agama yang salah. Salah satunya 5 alasan tadi tidak beredar di kalangan kita. Sekarang coba kita tonton acara TV, nonton acara-acara ceramah subuh di televisi. Kita akan lihat sebagian besar ceramah-ceramah televisi itu menyuruh orang-orang miskin itu semakin miskin atas nama kesabaran. Bahkan ada perang terhadap materialisme, karena itu kita harus zuhud sekarang.

Pemahaman tentang kezuhudan itu salah satu pemahaman yang paling banyak merusak kita. Karena kita tidak tahu bedanya orang zuhud dengan orang miskin.Imam Ghazali mengatakan orang zuhud itu adalah orang yang punya dunia lalu meninggalkannya dengan sadar. Orang miskin itu adalah orang yang ditinggal dunia. Kalau ada orang miskin tidak dapat makan lalu puasa Senin-Kamis itu bukan orang zuhud. Itu orang miskin yang berusaha memaksimalisasi kondisi keterbatasannya agar tetap dapat pahala, daripada tidak makan dan tidak dapat pahala lebih bagus tidak makan dapat pahala. Orang zuhud itu orang pasca dunia kalau orang miskin itu orang pra dunia. Kita lihat Rasulullah SAW itu sudah kaya raya sebelum menjadi Nabi. Kemiskinan Rasulullah yang kita baca di hadits-hadits itu adalah kemiskinan atas pilihan. Itu adalah pilihannya karena dia punya misi yang jauh lebih besar, yakni: yang begini itu dia tidak perlu lagi, sudah selesai. Bahkan Rasulullah mengatakan semua nabi-nabi itu sebagian besarnya kaya. Tidak ada lagi nabi yang diutus setelah nabi Syu’aib melainkan pasti dia berasal dari keluarga kaya dari kaumnya.

Rasulullah itu mengenal uang waktu umurnya 8 tahun, dia mulai kerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan pertamanya menggembala kambing. Umur 12 tahun dia sudah pulang pergi luar negeri ikut dalam bisnis keluarga. Umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam perang sehingga punya pengalaman mlliter. Umur 20 tahun Rasul sudah jadi pengusaha investornya adalah Khadijah. Waktu umur 25 tahun dia nikah dengan investornya. Berapa maharnya? Seratus ekor unta. Berapa harga seekor unta sekarang? Jauh lebih mahal dari 1 ekor sapi. Kira-kira 10 juta 1 ekor unta jadi totalnya 1 Milyar, Anak muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar, itu maharnya tapi yang disimpan itu masih ada. Walaupun Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi mengatakan sebaik-baik wanita adalah wanita yang cantik dan mahar yang murah, itu sebagai system tapi dalam tradisi jahiliyah itu status. Oleh karena itu, waktu pamannya yang bernama Abu Thalib menyampaikan khutbah nikahnya sebagai sambutan keluarga pada pernikahan Rasulullah SAW, beliau mengatakan sesungguhnya orang Quraisy tahu bahwa Muhammad salah saorang pemudanya yang terbaik, yang paling terhormat. Layaklah dia nikah dengan Khadijah karena maharnya tersebut.

Pemuda berusia 25 tahun punya uang 1 Milyar, sedangkan kita 25 tahun baru selesai Perguruan Tinggi dan karya terbesar kita adalah menulis lamaran kerja. Ini pemahaman keagamaan yang beredar di kalangan kita yang membuat kita ini miskin.Itu sebabnya di zaman penjajahan dahulu, para penjajah itu dengan sengaja menghidupkan kelompok-Kelompok sufi di tengah masyarakat. Paham sufiyah dihidupkan supaya orang-orang miskin itu tidak pernah bermimpi menjadi kaya dan merasa benar bahwa dia miskin. Maka langkah pertama menuju kekayaan adalah perbaiki dulu pemahaman keagamaan kita.

Saya dulu sekolah di pesantren 6 tahun, tempatnya dulu itu di hutan, bahkan tidak ada mobil lewat di sana, kalau kita ingin mendapatkan kendaraan umum kita harus jalan 3 km terlebih dahulu. Pada suatu hari ada badai datang dan menerbangkan seluruh atap gedung, masjid, dan seluruh benda yang ada di situ. Semuanya mudah diterbangkan karena bangunan yang ada adalah bangunan murah semuanya. Tiap hari kita makan hanya nasi dan kecap selama 6 tahun. Setiap kali kita makan, guru saya selain bilang ini nasi akan membuat kamu besar. Cuma butuh waktu. Karena itu fisik saya kecil Karena pada masa pertumbuhan kita tidak mendapatkan gizi yang baik dengan alasan latihan sabar, perjuangan.

Waktu itu saya bilang ini sekolah sengaja disimpan jauh dari kota karena kota itu neraka, disini kita hidup dengan cara yang benar. Waktu saya mau ke Jakarta untuk kuliah, saya minta guru saya istikharah buat saya, satu bulan kemudian saya datang dan dia menganjurkan saya untuk kuliah di Jakarta saja di LIPIA, karena LIPIA itu selingkar syurga yang di kelilingi oleh neraka. Itulah pemahaman keagamaan yang kita warisi.

Waktu saya kuliah di LIPIA juga belajar syariah namun tetap tidak ada yang mengajarkan kita pemahaman keagamaan yang benar tentang kekayaan.Kedua, karena kita tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang tidak mengajarkan kita dasar-dasar yang benar untuk menegakkan kehidupan. Lihat kurikulum yang kita pelajari, tidak satupun yang kita pelajari di sekolah itu benar-benar kita pakai dalam kehidupan yang real kita.

Sekarang belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD sampai Perguruan Tinggi. Tahun pertama itu 10 tahun, tetapi TOEFL kita tidak bagus-bagus. Padahal bahasa itu adalah sarana komunikasi yang seharusnya itu menjadi basic. Begitu juga tentang uang, kita tidak pernah sama sekali belajar di sekolah tentang uang. Saya dulu belajar hitung dagang di sekolah tapi itu pelajaran yang paling kita tidak suka. Jadi lingkungan pendidikan kita juga seperti itu.

Setelah kita tarbiyah pun hal-hal seperti ini juga belum diajarkan. Mungkin karena satu hikmah ataupun yang lainnya yang tidak kita ketahui. Tetapi kalau kita membaca literatur yang ditulis oieh Imam Hasan AI-Banna, sebenarnya perhatian ke arah ekonomi itu justru malah besar dari awalnya. Bahkan munculnya gagasan ekonomi Islam itu adalah anjuran dari beliau. Salah satunya rintisan dari beliau untuk mulai memperbaiki kehidupan ekonomi ummat Islam. Oleh karena itu saya menganjurkan kepada ikhwah di kaderisasi untuk segera membuat materi tatsqif tentang uang, karena kita periu.

Ketiga, karena kita ini memiliki ciri-ciri orang miskin dalam kepribadian.Ciri orang miskin:Pertama, orang miskin itu tidak pernah bermimpi jadi orang kaya. Kalau kita baca buku the millionaire mind (pemikiran milioner), di dalam buku tersebut disebutkan fakta bahwa di kalangan orang-orang miskin itu berkembang ide-ide yang membuat mereka itu miskin. Salah satunya karena memang mereka tidak punya mimpi jadi orang kaya. Waktu sekolah saya pernah ikut kursus keterampilan membuat sepatu, jadi saya bisa membuat sepatu. Karena kita mindsetnya disiapkan untuk menjadi buruh, kalau tidak bisa menjadi guru bahasa Arab akhirnya menjadi tukang sepatu. Kita lihat rintisannya. Jadi kita tidak pernah punya mimpi untuk menjadi kaya. Contohnya, kalau kita lihat orang pakai mobil Mercy, tidak pernah terpikir oleh kita kalau kita juga ingin punya mobii Mercy. Yang terpikir oleh kita adalah tega-teganya orang ini pakai Mercy.Pertama kali Ketua Majelis Syuro membangun rumah, banyak sekali ikhwah yang protes. Saya bilang kenapa kalian protes. Dia tidak pinjam uang antum. Saya datang ke rumahnya, Masya Allah rumahnya bagus. Ya Allah berikanlah saya model rumah yang seperti ini.

Kalau kita melihat mobil bagus, rumah bagus, hinggap sebentar di mobil itu, sapu baik-baik lalu berdoalah.Ketika tinggal di rumah mertua, saya bisa tinggal di tempat yang luasnya beberapa ribu meter. Cuma saya bilang, saya tidak ingin didominasi oleh mertua, Jadi setelah menikah saya bilang saya mau keluar dari rumah ini. Kata mertua saya, “Kamu mau tinggal dimana?” Itu urusan saya, satu tahun saya sudah tinggal disini. Saya keluar. Lalu saya kontrak rumah. Rumah saya itu mirip kandang ayam, triplek-triplek saja. Ada 3 petak rumah, kalau kita bersin di sini, akan terdengar oleh semua tetangga. Lantainya sebagian itu berupa tanah dan saya pun tidak punya kasur. Saya punya kasur ketika anak ke-3 saya lahir. Istri saya kalau sudah hari Sabtu atau Minggu mengajak pulang. Saya tahu dia ingin balik ke sana. Tapi kita belajar menata hidup kita sendiri, tidak tergantung dari orang.

Setiap hari saya lewat di depan sebuah rumah besar halamannya luas. Kalau saya lewat rumah itu saya berjalan pelan-pelan sambil menunggu bis dari Al-Manar. Saya melewati rumah itu yang terletak di pojok halaman yang luas dan ada banyak pohon-pohonan. Saya usap-usap itu temboknya. Alhamdulillah rumah itu menjadi rumah saya. Apabila saudara antum punya mobil antum jangan marah padanya. Jangan tanya uangnya dari mana. Jangan tanya seperti itu. Antum pegang mobilnya, usap-usap mobilnya.

Sekarang kalau saya mau ke DPP tiap hari lewat Menteng, lewati rumah yang bagus-bagus, di situ juga ada masjid yang besar yang bernama Sunda Kelapa. Saya suka berdoa juga di situ. Ya Allah, saya ingin tinggal di samping masjid ini, tapi bagaimana caranya atur ya Allah. Syurga saja kita pinta, apalagi hanya rumah.

Suatu waktu saya pernah naik private jet punya Abdul Rizal Bakrie waktu itu jauh sebelum era partai karena saya suka ceramah di rumahnya. Kita pergi naik private jet nya. Enak juga naik private jet. Saya berdo’a juga disitu. Saya juga ingin yang seperti ini karena enak. Syurga saja kita pinta apalagi seperti ini.Kemarin Muraqib Am ditanya oleh kader. Kadernya protes, “Ustadz Hilmi anggota dewannya sudah mulai pada borju semuanya. Di jawab oleh Ustadz Hilmi mereka tidak borju cuma menyesuaikan penampilan dengan lingkungan pergaulannya. Jadi kalau ikhwah pada kaya-kaya nanti kita juga bahagia. Saya paling senang kalau ada ikhwah yang punya private jet, perlu di dorong itu. Jadi kita tidak pelu belanja tiket lagi kalau ingin ke Riau. Tidak terikat dengan jadwal penerbangan regular. Dan saya tanya harga private jet itu, setidak-tidaknya kita sudah tahu harga private jet itu.

Sewaktu-waktu saya naik mobil Land Cruiser punya teman saya, mobil saya Kijang, Saya bilang mobilmu lebih enak dari mobil saya. Dia bilang kenapa. Saya bilang saya pikir mobil saya itu paling enak di muka bumi, ternyata mobil bapak lebih enak. Memang mobil kamu apa, saya bilang Kijang. Dia bilang, “Oh itu mobil masa lalu saya.”

Ikhwah sekalian.

Karakter orang miskin itu harus kita hilangkan, itu sebabnya kita miskin. Karena tidak punya mimpi menjadi orang kaya. Kedua, kita ini umumnya tidak ulet. Senang difasilitasi. Dan, ada karakter yang buruk di Melayu, pada umumnya senang diberi hadiah daripada memberi hadiah. Bahagia dan bangga kalau ditraktir makan daripada kalau mentraktir makan. Kalau kita ingin menjelaskan orang Cina lebih kaya dibanding kita di negeri ini, karena dia lebih rajin bekerja.

Saya pernah mengisi pelatihan di Telkom, saya suruh tulis mimpi-mimpi mereka semua. Saya kasih kertas besar, mereka menulis dan menggambar. Hampir semua mereka membuat gambar yang sama. Sebuah rumah di sampingnya ada sawah-sawah, disampingnya ada masjid, kemudian ada pesawat terbang dan ada ka’bah. Saya suruh menjelaskan. Dia bilang nanti saya berharap insya Allah sudah naik haji sebelum pensiun setelah pensiun nanti saya punya rumah di desa di sampingnya ada sawah-sawah, di sampingnya lagi ada masjid. Jadi dia ibadah kerjanya. Saya bilang bapak pensiun umur berapa. Dia bilang 55 tahun, Mau menghabiskan sisa umur di desa disamping masjid dan di samping sawah. Kalau bapak diberi umur 80 tahun oleh Allah SWT- berapa sisa umur bapak, 25 tahun akan bapak habiskan di samping sawah.

Begitu cara kita berfikir, kita menghindari tantangan.Saya pernah ceramah di direktur keuangan BULOG, dia mau pensiun dini, dia tinggalnya di Patra Kuningan dekat rumahnya Pak Habibie. Saya diminta mengisi ceramah di rumahnya tentang manajemen harta untuk para lansia. Yang hadir itu angkatan 63 UGM dari Fakultas Ekonomi semuanya. Saya bilang bapak setelah pensiun nanti mau tinggal di mana. Dia bilang mau balik ke kampung halamannya di Solo. Saya tanya Solonya di mana. Dia bilang agak ke pinggir sedikit. Nah kita lihat, sudah pulang kampung ke Solo masih ke pinggir sedikit. Dia sudah punya rumah disana di sampingnya ada sawah-sawah, ada masjid, persis seperti gambar orang Telkom itu. Saya bilang kenapa tidak tinggal di Jakarta. Dia bilang siapa yang bisa tahan tinggal di Jakarta setelah pensiun. Biaya mahal, anak saya sedang pada kuliah semuanya saya tidak kuat nanggung.

Coba kita lihat waktu pendapatan kita berkurang yang kita lakukan itu adalah mereduksi dan mengurangi kegiatan kita supaya kita menyesuaikan diri dengan pendapatan, seharusnya ketika pendapatan kita berkurang bukan kegiatan yang kita reduksi tapi yang kita lakukan adalah tetap memperbanyak kegiatan dan menambah pendapatan. Jadi saya bayangkan kalau bapak di kasih umur 80 tahun, bapak akan tinggal di kampung itu selama 25 tahun. Sekarang saya coba menghayal-menghayal kira-kira jadwal hariannya seperti apa. Jam 3 insya Allah dia akan bangun qiyamul lail sampai subuh dia sudah tidak tidur, karena orang kalau sudah diatas 40 tahun kebutuhan tidurnya sebetulnya cuma 2 jam, setelah subuh mungkin dia nanti wirid, setelah itu pagi, mungkin aktivitas jalan pagi dan lainnya selesai jam 7. Setelah itu dia mandi lalu sarapan dia baca koran. Katakanlah selesai jam 9 setelah itu dia sholat dhuha. Setelah itu tanda tanya karena tidak ada kegiatan yang dia lakukan. Lalu masuk zhuhur sebelumnya dia punya waktu 3 jam, setelah itu dia makan siang setelah itu dia tidur siang, bangun ketika ashar. Ashar sampai maghrib yang dia lakukan duduk-duduk diteras minum kopi sambil memandang sawah. Sebelum maghrib dia mandi, setelah maghrib dia makan malam sampai isya mungkin dia mengaji. Setelah sholat isya melihat televisi sebentar setelah itu dia tidur lagi. Kita lihat tidak ada waktunya yang produktif. Orang ini 25 tahun menunggu kematian. Kematian itu tidak perlu ditunggu nanti dia akan datang sendiri kenapa kita tunggu-tunggu dia. Kita lihat cara kita merencanakan hidup. Seharusnya di usia seperti itulah kita bekerja makin giat karena jadwal kita makin dekat. Kematian kita makin dekat bukan makin berserah tetapi begitulah pikiran yang ada pada orang-orang miskin dan karakter yang ada pada orang-orang miskin. Orang-orang ini tidak ulet, menghindari tantangan, tidak ingin kerja keras. Karena itu rata-rata jadwal kerja orang miskin itu di bawah 8 jam. Sementara jadwal kerja orang kaya itu di atas 15 jam. Wajar kalau mereka jadi kaya karena jam kerja mereka juga banyak.

Keempat, 3 sebab yang pertama inilah yang menyebabkan mengapa kemiskinan struktural yang direncanakan oleh musuh Islam itu bisa berhasil karena memang kita bisa dimiskinkan, Ada pemahaman agama yang salah, ada pendidikan yang salah, ada karakter orang miskin, kemudian ada usaha sistematis untuk memiskinkan kita. Jadilah kita umat yang miskin. Kita tinggal di atas semua sumber daya alam yang begitu kaya, sementara kita hidup sebagai orang miskin. Tidak ada alasan bagi kita untuk hidup sebagai orang miskin. Kita lihat di seluruh dunia sekarang ini semua sumber daya alam yang terbaik itu ada di dunia Islam. Minyak misalnya ada di dunia Islam, sekarang Cina, kita lihat disana ada 130-an juta orang Islam yang berbatasan dengannya. Di wilayah yang di kuasai oleh umat Islam itu terdapat riset minyak terbesar di Cina. Jadi semua sumber daya energi itu, ada di kalangan umat Islam.Itu sebabnya salah seorang pemikir Jerman mengungkapkan alasan bahwa Islam itu menjadi musuh Barat, sebabnya karena: Pertama, umat Islam itu mempunyai aqidah dan aqidah ini tidak bisa dirusak oleh penjajahan model apapun juga. Kedua, populasinya terus bertambah sedangkan orang Barat populasinya terus berkurang. Ketiga, karena mereka memiliki semua sumber daya yang memungkinkan mereka mendirikan peradaban.

Kita diberi laut di Indonesia ini tapi tidak ada yang mengelolanya, otak kita tidak dialihkan ke sana. Kita hidup di tengah kekayaan tetapi mati sebagai orang miskin. Ada usaha untuk memiskinkan kita. Kenapa usaha itu berhasil? Karena ada faktor-faktor di dalam diri kita sendiri yang membuat itu berhasil dan inilah sebabnya mengapa perimbangan kekuatan dalam kehidupan kita sekarang ini menjadi tidak imbang. Karena kita bahkan tidak mau kaya. Kita bayangkan orang seperti Bill Gate punya kekayaan lebih dari 500 Trilyun. Itu hampir sama dengan 1 tahun APBN Indonesia. Orang seperti George Soros itu bisa memiskinkan 200 juta penduduk Indonesia. Bagaimana itu bisa. Kalau kita baca George Soros itu, ‘infaqnya’ pekerjaan charitynya sudah lebih dari 5 Milyar Dollar Kalau masalah ini sedikit kita kembangkan menjadi semacam wawasan politik ekonomi yang lebih luas, maka kita perlu memahami bahwa ada tiga panggung terkait dengan ini. Panggung negara, panggung civil society dan panggung pasar. Dari 3 panggung ini, pasarlah yang mempunyai mekanisme bekerja paling efektif apabila dibandingkan mekanisme negara maupun mekanisme civil society. Itu sebabnya dari sekarang negara itu mengalami reduksi pada otoritas-otoritasnya disebabkan oleh tekanan pasar. Kini kita bisa dimiskinkan hanya dengan menekan tombol-tombol elektronik. Masukkan modal melalui komputer tarik lagi modalnya melalui komputer dan kita semua miskin.PKS di masa yang akan datang tidak bisa mengendalikan kehidupan ini semuanya kalau hanya berkuasa di negara tetapi tidak menguasai pasar. Tidak mungkin. Sekarang ini kita akan menemukan secara individu, banyak individu yang lebih kaya daripada negara. Oleh karena itu gabungan dari beberapa individu justru dapat dengan mudah mengintervensi negara dan memiskinkan negara.

Kalau kita hanya masuk ke dewan, padahal dewan itu hanyalah bagian kecil dalam panggung negara, masih ada eksekutif masih ada yudikatif. Kita hanya punya sedikit di dewan itu, dan di dewan itu masih sedikit pula. Kita lihat daerah kekuasaan kita, dakwah ini ke depan hanya bisa menekan, menguasai, mengendalikan situasi kalau kita punya orang yang terdistribusi secara merata, memimpin negara, memimpin civil society, dan memimpin pasar. Baru kita akan digjaya sebagai sebuah gerakan dakwah. Ketiga, bagaimana kita memulai membangun kehidupan finansial kita.Pertama, perbaiki ide kita tentang uang. Ide itu adalah wilayah kemungkinan, “space of possibility”. Semua yang menjadi mungkin dalam ide kita pasti akan menjadi mungkin dalam realita. Ide itu adalah tempat penciptaan pertama sedangkan realitas itu adalah tempat penciptaan kedua. Jadi tidak ada realitas yang terjadi dalam kehidupan kita tanpa sebelumnya tercipta pertama kali dalam ide-ide kita. Sebelum pesawat terbang itu diciptakan yang pertama kali dahulu adalah ada ide bagaimana manusia dapat terbang seperti burung. Jadi begitu sesuatu jadi mungkin dalam ide kita, ia bisa menjadi mungkin dalam kenyataan.Sekarang perbaikilah ide-ide kita tentang uang. Belajarlah untuk mempunyai mimpi besar tentang uang. Belajarlah untuk membuat daftar rencana, insya Allah ketika saya meninggal nanti saya ingin mewariskan sekian banyak uang. Buatlah step ide ini luas. Karena kalau space of possiblity kita ini luas maka space of reality kita jadi luas. Kalau kita lihat mobil, belajarlah mempunyai selera yang bagus.Supaya ide-ide ini tumbuh dengan baik kita perlu dari sekarang membaca sebuah buku tentang uang. Bacalah buku-buku tentang uang, Saya sangat menganjurkan beberapa buku di anlaranya The.Millionaire Mind, ada dua buku yang ditulis oleh penulis yang sama karena ini adalah risetnya. Selanjutnya The Millionaire Dead. Ini adalah penelitian yang dilakukan terhadap cara berfikir orang-orang kaya yang ada di Amerika, Kemudian buku One Minute Millionaire (Bagaimana menjadi milliuner dalam 1 menit) dan ini juga punya website, kita bisa masuk ke websitenya, mereka punya psikotest kalau kita ingin mengetahui apakah kita punya talenta jadi orang kaya atau tidak. Alamat websitenya http://www.oneminutemillionaire.com. Buku yang ketiga, adalah semua buku Robert T Kiyosaki. Yang ke-4 ini

buku lama tapi termasuk buku-buku awal yang dibaca orang tentang uang yaitu buku yang ditulis oleh Napoleon Hill, Think and Grow Rich, Berfikir dan Menjadi Kaya. Buku terakhir ini adalah buku yang sangat lama karena diterbitkan pada tahun 80- an dan ditulis tahun 70-an, tapi menurut saya rasa masih sangat relevan untuk dibaca. Ini buku-buku dasar semuanya bagi pemula. Dan saya rasa penting juga untuk mendapatkan landasan syar’i yang bagus tentang hal ini apabila kita baca juga buku yang ditulis oleh Syeikh Yusuf Qordlowi tentang nilai-nilai moral dalam ekonomi Islam.Perbaiki dahulu ide kita tentang uang, perbaiki tsaqafah tentang uang dan mulailah mempunyai mimpi besar untuk menjadi orang kaya, supaya kita insya Allah naik derajatnya dari amil zakat menjadi muzakki. Supaya kita datang kepada orang jangan lagi bawa proposal tapi lain kali orang datang bawa pro-posal, itu yang benar. Sering-seringlah datang ke tempat-tempat mewah, jalan-jalan saja untuk memperbaiki selera.Saya punya 1 halaqah yang terdiri dan anak-anak LIPIA, Mereka datangnya dari kampung, dari pesantren semuanya. Saya tahu mereka ini membawa background, di backmindnya itu ada psikologi orang kampung yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Saya tanya kamu nanti setelah selesai dari LIPIA mau kemana? Mereka bilang Insya Allah kita mau pulang ke kampung mengajar di Ma’had, mengajar Bahasa Arab, Suatu hari saya ajak mereka, hari ini tidak ada liqa’, tapi saya tunggu kalian di Hotel Mulia. Saya ada di suatu tempat dan mereka tidak melihat saya. Saya suruh mereka berdiri saja di lobby. Mereka datang pakai ransel karena mahasiswa datang pakai ransel, diperiksa lama oleh security. Karena penampilannya sebagai orang miskin dicurigai membawa bom. Saya lihat dari atas. Itu masalah strata, kalau antum datang pakai jas dan dasi tidak ada yang periksa antum di situ, karena yang datang pakai ransel tampang kumuh. Kemudian mereka bertanya di mana antum ustadz, saya bilang antum tunggu saja di situ. Saya dekat dengan mereka tapi mereka tidak melihat, saya hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan. Kira-kira 2 jam mereka saya suruh di situ, mondar-mandir di lobby. Minggu depan saya tanya apa yang antum lihat disana. Orang lalu lalang, jawab mereka.Saya tanya, pertama, apakah ada satu orang yang lalu lalang yang antum lihat yang mukanya jelek, dia bilang tidak ada. Semuanya ganteng-ganteng semuanya cantik-cantik. Jadi ada korelasi antara wajah dan kekayaan, Makin kaya seseorang makin baik wajahnya. Kedua, ada tidak yang memakai pakaian yang tidak rapi kecuali antum. Dia bilang tidak ada, semuanya rapi. Jadi dengan latihan seperti ini pikirannya sedikit mulai terbuka. Karena ia membawa bibit dalam pikirannya untuk menjadi orang miskin. Sekarang alhamdulillah mereka bertiga sekarang ini sedang kuliah di Ul ambil S2 Ekonomi Islam.Ikhwah sekalian jadi kita perbaiki insting kita. Pertama kali kita perbaiki tsaqafah kita. Jadi hadirkan buku-buku itu ke dalam rumah dan mulai dari sekarang anak-anak kita juga mulai diajari tentang uang. Ikutilah kursus-kursus tentang enterpreneurship supaya kita dapat memperbaiki dulu citra kita tentang uang.Kedua, menyiapkan diri untuk menjadi kaya. Orang-orang kaya yang bijak itu mempunyai nasehat yang bagus, mereka mengatakan “sebelum Anda menjadi kaya latihanlah terlebih dahulu menjadi kaya”. Hiduplah dengan hidup gaya orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, karena itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita itu adalah pesimis. Saya punya seorang teman sekarang menjadi kaya, dia datang ke Jakarta hanya sebagai pelatih karate dan tidak ada duitnya, tapi supaya tidak ketahuan oleh istrinya bahwa dia tidak punya pekerjaan, setiap habis sholat subuh dia pergi lari olahraga, setelah itu dia memakai pakaian rapi lalu keluar rumah. Dia juga tidak tahu mau kemana yang penting ke luar rumah. Istrinya tidak tahu kalau dia tidak punya pekerjaan. Nanti di jalan baru ditentukan siapa yang dia temui hari ini.Langkah pertama perbaiki dahulu sirkulasi darah kita, olahraga dulu, supaya wajah segar makan yang banyak. Banyaklah makan yang enak, daging. Sering-sering makan yang enak. Menurut Utsman bin Affan makanan paling enak itu adalah kambing muda. Setiap hari mereka makan kambing muda. Makan yang enak, olah raga yang bagus supaya wajah kita berseri. Syeikh Muhammad Al-Ghozali dalam kitab Jaddid Hayataka mengatakan kenapa orang-orang Barat itu pipinya merah, karena sirkulasi darahnya bagus, gizinya bagus. Sedangkan kita orang-orang timur kalau ketemu itu auranya pesimis, tidak ada harapan. Biasakanlah kalau orang ketemu kita ada harapan yang terlihat, makanya kalau pilih warna baju pilihlah yang cerah-cerah, Ibnu Taimiyah mengatakan ada hubungan antara madzhab dan batin kita, pakaian apa yang kita pakai itu mempengaruhi kondisi kejiwaan kita. Jangan pakai pakaian orang tua. Ada anak umur 25 tahun pakaiannya pakaian orang tua, bagaimana nanti kalau umurnya 50 tahun pakaiannya seperti apa. Tampillah sebagai anak muda. Cukur rambut yang bagus, cukur kumis yang rapi janggut dirapikan. Rapi, supaya kita kelihatan ada optimisms. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata kita kuat, perlu sedikit latihan menatap. Misalnya di pagi hari atau sore hari menjelang matahari terbenam, antum tatap matahari dan tidak berkedip matanya. Kalau bisa antum bertahan 1 menit itu bagus, Latihan saja sendiri. Di dalam kamar ambil lilin, matikan lampu, antum tatap itu lilin dan matanya tidak berkedip dan tidak berair. Nanti kaiau sudah terbiasa pandangan matanya kuat. Jadi kalau olahraga teratur, sirkulasi udara bagus, pikiran jadi segar, tsaqafah kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah-cerah. Makanya Rasulullah itu senangnya memakai baju putih. Jangan pakai yang gelap-gelap atau warna yang tidak menunjukan semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua. Sekadar untuk menunjukkan kita ini kelompok orang-orang shaleh kita pakai baju taqwa, itu pakaian orang Cina, pakailah baju yang segar agar dapat menunjukkan bahwa kita ada semangat. Walaupun Anda sudah berumur pun tetap pakai pakaian yang muda, jangan berpenampilan tua, Artinya kita harus merendahkan diri, sebab uban tanpa diundang dia akan datang. Tadi tidak perlu menua-nuakan diri dengan sekadar tampil kelihatan dewasa, tua, bijak. Tampillah sebagai anak muda yang gesit dan optimis.Ketiga, bergaullah dengan orang-orang kaya, perbanyak teman-teman antum dan kalangan tersebut. Ini tidak bertentangan dengan hadits yang mengatakan dalam bab rezeki lihatlah kepada yang dibawah dan jangan lihat kepada yang di atas. Antum tidak sedang tamak ke hartanya, tetapi antum sedang belajar kepada mereka. Dahulu saya suka ceramah di kalangan orang-orang kaya. Waktu saya ceramah di rumahnya Abu Rizal Bakrie yang saat itu sedang berduit-duitnya, saya duduk dalam 1 karpet, ketika krismon pada waktu itu, sekretarisnya bilang pada waktu itu, tahu tidak berapa harga karpet ini. Saya bilang tidak tahu, saya pikir sejadah biasa. Dia bilang karpet ini harganya 100 ribu dollar. Karpet kecil harganya 1,6 M. Waktu saya selesai ceramah dikasih amplop, amplopnya tipis. Saya bilang sama sekretarisnya. Ini amplop kembalikan kepada dia. Bilang sama beliau saya cuma ingin berkawan dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata-kata saya. Saya mau bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya amplop lain kali. Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini saya ingin bergaul dengan bapak, saya ingin jadi teman.Alhamdulillah dari situ saya banyak teman dari kelompok orang-orang kaya, dan kalau datang kita belajar, saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana caranya, bertanya kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu didoakan panggil saya, bisa. Tapi kan saya tidak punya ilmu bikin duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid. Jangan karena kita sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek.Saya bergaul dengan orang-orang kaya dan saya belajar dengan mereka. Saya belajar bagaimana caranya bikin duit, bagaimana caranya bikin perusahaan sama-sama dan saya tidak malu. Bergaul dengan mereka itu dari sekarang. Jangan tamak pada hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan minder bergaul dengan orang kaya seperti itu. Awal lahirnya reformasi, setelah kalah dalam pemilu 1999, kita Poros Tengah kumpul di rumahnya Fuad Bawazir. Semua orang diam, ada Amin Rais, Yusril, semuanya diam karena main. Karenanya kita semuanya kalah, tadinya sombong semua. Pak Amin Rais mengatakan sebelum pemilu, “Nanti Golkar kita lipat-lipat, kita tekuk-tekuk, kita kuburkan di masa lalu.” Tidak tahunya Golkar masih di nomor 2. Partainya Pak Amin rendah perolehan suaranya. Suara umat Islam rendah, Jadi berkumpulah orang-orang kalah ini selama 2 hari. Waktu itu Pak Amin sedang dikejar-kejar terus oleh Dubes Amerika untuk membuat pernyataan bahwa pemenang pemilu legislatif yang paling layak jadi Presiden, tapi Pak Amin menghindar. Jadi saya datang ke rumah Pak Fuad Bawazier, saya bilang Pak Fuad, saya ini bukang orang politik, saya ini ustadz. Yang saya pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya adalah i’tikaf. Kita belajar banyak istighfar, tilawah dan seterusnya. Jauhi dulu wartawan, mungkin dosa-dosa kita banyak sehingga kita kalah. Dia bilang bener juga ya. Cuma kalau kita i’tikaf di Indonesia tetap saja diketahui wartawan. Kalau begitu kita umrah, Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3 orang, 4 orang ini naik bisnis first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang beli tiket dia soalnya. Mau diprotes bagaimana. Kita cuma dihargai begini, terima apa adanya dahulu. Tapi waktu itu kita dengan lugu datang menghadap Pak Fuad. Saya bilang Pak Fuad berapa harga tiket First Class. Dia bilang pokoknya 2 kali lipat dari harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 dollar harga first class itu sekitar 2000 dollar. Kenapa kita tidak sama-sama di kelas ekonomi saja, dan selisihnya kita infaqkan untuk orang miskin. Ini kan masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa dia bilang ya akhi, nanti ini ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi ana tolong dong di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.Kita tidak tahu apa nilai yang berkembang pada orang kaya, kenyamanan itu adalah nilai pada mereka. Mereka menghemat energi, tenaga. Dan, angka besar pada kita itu angka kecil bagi mereka. Uang 1 milyar 2 milyar itu uang jajan. Kalau kita, belum tentu punya tabungan sampai mati sejumlah itu. Itu masalah cita rasa. Cita rasa pada orang kaya itu berbeda. Ini yang kita pelajari, yang dianggap besar oleh mereka itu adalah ini. Dengan begitu kita menjiplak sedikit emosinya. Karena dalam pergaulan itu, kalau kita bergaul dengan seseorang itu, kalau bukan api dia parfum, Kalau dia parfum dia menyebarkan wangi, kalau dia api menyebarkan panas, Orang jahat itu api, kalau anturn dekat-dekat akan menyebarkan panas. Orang baik itu parfum, kalau antum dekat-dekat setidak-tidaknya bau badan kita tertutupi oleh parfum tersebut. Jadi ikut-ikut karena kita ingin perbaiki selera. Jadi antum kalau punya waktu-waktu kosong jalang-jalanlah ke mall, lihat-lihat orang kaya tidak usah belanja, liha-lihat saja dulu, memperbaiki selera. Datang ke showroom mobil, datang ke pameran mobil, lihat-lihat pegang-pegang. Rajinlah berdo’a. Bergaullah dengan orang kaya.Selain itu, rajinlah berinfaq walaupun kita miskin. Gunanya apa? Supaya antum tetap mengganggap uang itu kecil dan supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita. Misalnya kita punya tabungan 10 juta, infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar dari ini. Jadi angka itu terus bertambah di kepala kita, walaupun dalam kenyataannya belum. Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita rasa kita tentang angka. Bukan sekadar dapat pahala tetapi efek tarbawinya bagi kita akan bertambah terus. Kita belum pernah merasakan bagaimana menginfaqkan mobil, sekali waktu kita berusaha untuk menginfaqkan mobil. Begitu antum punya uang sedikit terus berinfaq, terus seperti itu kita latih sambil menjaga jarak. Kita membuat sirkulasi jadi bagus.Kelima adalah mulailah melakukan bisnis real. Terjun ke dalam bisnis secara langsung. Karena Rasulullah SAW mengatakan 9 per 10 rezeki itu ada dalam perdagangan. Saya juga ingin menasehati ikhwah-ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan mengandalkan mata pencaharian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum tentu kader-kader di Riau ini nanti masih menginginkan Pak Khairul untuk periode selanjutnya. Belum tentu juga jama’ah menunjuk kita lagi sebagai anggota dewan, padahal gaya hidup sudah berubah. Anak-anak kita kalau kenalan dengan orang, bapak saya anggota dewan padahal itu hanya sirkulasi. Jadi setiap kali kita mendapatkan pendapatan dari gaji karena pekerjaan seperti ini, kita-harus hati-hati itu bahaya. Jadi pendapatan paling bagus itu tetap dari bisnis. Oleh karena itu, mulai sekarang itu belajarlah terjun ke dunia bisnis.Jatuh bangun waktu bisnis tidak ada masalah, terus saja belajar. Tidak ada juga orang langsung jadi kaya. Yang antum perlu terus berbisnis. Begitu juga dengan para ustadz, teruslah bisnis. Begitu juga dengan seluruh pengurus DPW-DPD dan seterusnya. Teruslah berbisnis. Lakukan bisnis sendiri. Sesibuk-sibuknya kita, kita perlu mempunyai bisnis sendiri sekecil-kecilnya. Tidak boleh tidak. Itulah sumber rezeki yang sebenarnya. Kalau antum mau kaya sumbernya adalah dagang. Rezeki itu datangnya dari 20 pintu, 19 pintu datangnya dari pedagang dan hanya 1 pintu untuk yang bekerja dengan keterampilan tangannya, yaitu para professional. Misalnya akuntan itu kan professional, pekerja pintar, tapi kalau sumber rezekinya satu makanya uangnya terbatas. DPR juga begitu sumbernya satu, yakni gaji bulanan, itu hanya 5 tahun. Itu pun kalau tidak di PAW sebelumnya. Jadi kalau saya ketemu dengan ikhwah dari dewan, hari-hati jangan sampai mengandalkan mata pencaharian dari situ. Selain itu potongan dari DPP, DPW, DPD juga besar. Untuk ma’isyah sendiri kita harus cari di sumber lain.Waktu kita terjun ke bisnis, kita pasti gagal. Gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga, gagal keempat tapi teruslah jangan pernah putus asa. Saya punya partner bisnis. Dia mulai bisnis umur 16 tahun, semua jenis pekerjaan sudah dia lakukan. Pada suatu waktu dia mempunyai 38 perusahaan tapi dari 38 perusahaan ini hanya 6 yang menghasilkan uang, Kita lihat berapa ruginya. Jadi seringkali kita salah pandang terhadap orang kaya. Kita pikir tangannya tangan dingin semua yang disentuh jadi uang. Ternyata tidak juga.Jadi hal-hal seperti itu harus kita hadapi secara wajar jangan shock kalau rugi. Jangan berfikir dengan berdagang antum akan cepat jadi kaya, yang menentukan antum cepat berhasil dalam dagang itu adalah secepat apa antum belajar. Cara belajar itu ada dua: baca buku atau sekolah atau bergaul dengan orang-orang sukses, nanti kalau sudah baca buku sudah bergaul dengan orang sukses, masih gagal juga. Teruslah berdagang, teruslah-bergaul, teruslah seperti itu karena setiap orang tidak tahu kapan saatnya dia ketemu dengan momentum lompatannya.

Cintaku Amat Suci (new edition)


Hari yang indah. Mentari pagi menyinari alam ini, menghangatkan semua yang ada di permukaan bumi. Sinar itu juga menghangatkan tubuh dan hati seorang lelaki yang duduk termangu di bangku taman kampus. Kilauan embun di rumput tak henti-henti menghiburnya, mengingatkannya atas Kuasa Allah, Sang Pencipta alam ini, memberinya semangat yang membara. Tekadnya semakin kuat bahwa hari ini akan jauh lebih baik dari hari kemarin.

“Doorrr…..!!!” seseorang mengagetkan Nazrul, membuyarkan lamunannya.

Nazrul menoleh, dan ia melihat seorang wanita.

“Eh Lili, bikin kaget aja!!”

“Abis…, lo ngelamun aja!”

“Mang ada apa Lil?” tanya Nazrul.

“Lo dah ngerjain PR Sispak belom?”

“Udah dong! Emangnya elo!”

“Ah, sebenernya gue tuh mau ngerjain, tapi gimana lagi?! Gue nggak bisa. Boleh kan gue nyontek PR lo? Gue sengaja dateng pagi buat nyontek!”

“Ya udah, nih.” Nazrul memberikan buku Sispaknya pada Lili.

“Makacih ya! Gue mau ke kelas dulu. Tar gue balikin bukunya abis kuliah SI. Kelas SI lu di Ofac kan ya?”

“Iya.”

“Daahh…!”

Lili segera meninggalkan Nazrul. Dalam hati kecilnya, Nazrul berkata-kata.

“Lil, kenapa obrolan kita begitu cepat? Aku menyesal tak menahan kau lebih lama. Bersamamu aku senang, di dekatmu aku tenang.”

******

“Terimakasih”, terlihatlah slide kuliah terakhir dosen yang sangat ditunggu-tunggu apra mahasiswa. Nazrul memasukkan peralatan kuliahnya ke tas. Ia meraba kantong celananya dan menemukan uang. Terbesit niat dalam hatinya ingin jajan ke kantin. Perutnya tak bisa kompromi, ia berjalan begitu cepat ke arah pintu kelasnya.
Di depan pintu…

“Aau….!”

“Dug..”

Nazrul menabrak seseorang hingga terjatuh.

“Aduh… hati-hati dong Rul!”

“Eh, maaf Lil! Gue nggak sengaja.” kata Nazrul sambil mengulurkan tangan ke Lili.

“Ya udah nggak apa-apa.” Lili menerima sambutan tangan dari Nazrul. “Nih! Gue mo ngembaliin buku Sispak lo.”

“Sini, gue periksa dulu, lecek nggak nih!”

“Ah elo! Kaya ga tau gue aja. Gue tu apik.” Kata Lili bersuara sedang.

“Lil, ke kantin yu! Gue laper.”

” Yuk! Gue juga laper.”

Mereka berdua pergi ke kantin. Di sana terlihat banyak mahasiswa yang jajan dan ngobrol.

“Rul, kita beli somay aja yuk!” Lili menarik tangan Nazrul ke tukang somay.

“Iya, kita beli somay. Tapi jangan narik-narik gini dong!” kata Nazrul tak sesuai dengan hatinya. Senang sekali rasanya ia ditarik oleh Lili.

“Bang, dua ya! Campur!” kata Lili pada tukang somay.

“Tunggu bentar ya Neng!” jawab tukang somay. Tukang somay segera menyiapkan pesanan mereka.

Sambil menunggu…

“Lil, ada yang mau gue omongin.” Kata Nazrul pelan.

“Ngomong ya ngomong aja, ngga usah pake kata-kata pembuka segala!” kata Lili santai.

“Ini serius Lil!”

“Ya udah, ngomong aja!”

“Gini Lil, dari semenjak kita…”

“Eh, salah tuh!” kata Lili memotong pembicaraan.

“Salah apanya?”

“Dalam bahasa Indonesia, nggak ada kata dari semenjak.”

“Oh…, iya deh. Begini, semenjak kita berteman waktu SMP, kan cocok-cocok aja, jarang banget selek.” Nazrul berhenti berkata, meminta balasan dari Lili.

“Iya, kita dah berteman dari SMP, mang kenapa?”

“Emm…” Nazrul tak meneruskan kata-katanya.

“Kenapa sih?”

Nazrul terdiam, namun segera ia angkat bicara.

“Sebenernya gue… gue itu…”

“Neng! Jang! Ni somaynya.” Tukang somay memotong pembicaraan.

“Makasih bang!” jawab Lili.

Setelah itu mereka makan. Nazrul mengurunkan niat tuk mengungkapkan perasaannya pada Lili.

***

Sorenya…

“Lil, gimana hubungan lo ama si Irwan?” tanya Lusi.

“Oh iya, gue mau ngasih tau lo, kemaren sore gue ama Irwan ketemu. Dia nembak gue.” Lili menjelaskan.

“Terus Lil, lo terima ga?”

“Ya, gue terima aja. Abisnya dia baek, ganteng en yang pasti gue juga suka ama dia.” kata Lili sambil senyum-senyum.

“Bagus deh Lil. Tapi lo mau ngapain aja ama pacar pertama lo itu?” tanya Lusi.

“Gue sih nggak mau macem-macem, paling cuma jalan, shoping ama ngobrol-ngobrol, itu aja.”

“Yah…, itu mah ama temen laki yang laen juga bisa. Maksud gue lo bakal ngelakuin yang enak-enak ga kaya pelukan dan laen-laen?” Lusi berkata bernada ngejek.

” Ih, amit-amit deh kaya gitu!” Lili membantah.

***

“Sekian”, terpampang slide kuliah sispak terakhir di depan kelas.

Nazrul tidak segera pulang. Ia membaca-baca kembali pelajaran PSBOnya.

“Nazrul! Gue belum ngerti activity diagram nih!” kata Lili.

“Apanya yang belom ngerti?”

“Kenapa bisa begini?”

“Gini, ini adalah kita sebagai user. Disini menjelaskan apa yang dilakukan user. Nah, dari sini ada panah ke system, nah disini itu adalah segala sesuatu yang dikerjakan user.”

“Oh…”

Nazrul menjelaskan pelajaran PSBO pada Lili. Lili yang manggut-manggut tak pernah lepas dari pandangan Nazrul. Nazrul terus melihat wajah Lili yang cantik. Suara Lili pun begitu indahnya yang membuat Nazrul semakin bersemangat.

“Oh, gitu toh! Makasih ya Rul!” kata Lili sambil beranjak dari duduknya.

“Tunggu Lil, ada yang mau gue omongin.”

“Ih…, dari kemaren. Mau ngomong susah amat. Mang mau ngomong apa?” tanya Lili.

“Gue…  ” Nazrul terbata-bata.

“Tuh kan! Yang serius dong!”

“Gue…”

“Dug tak.. dug taktak dug…”

Pembicaraan terpotong oleh suara ponsel Lili. Lili segera melihat dan mengoprek ponselnya.

“Sialan!” kata Lili sambil tersenyum.

“Kenapa Lil?” Nazrul penasaran.

“Liat deh ini!” kata Lili sambil memberikan ponselnya.

Nazrul melihat ponsel Lili dan membaca smsnya.

Lili, wajahmu…bopeng.
Suaramu…cempreng.
Tubuhmu…kerempeng.
Namun cintaku…ngabereleng.

“Dari siapa Lil?” Nazrul bertanya dengan cemas.

“Dari Irwan, baru dua hari jadian, ga ada romantis-romantisnya tu anak!” jawab Lili.

“Jadian?!” Nazrul berusaha menahan gejolak di hatinya..

“Oh iya, gue lupa ngasih tau lo, dua hari yang lalu gue jadian ama si Irwan.”

Jawaban yang tak diharapkan. Nazrul tak kuasa menahan hatinya. Tanpa berkata-kata lagi, Nazrul langsung berpaling dan berlari menuju Mushola Fakultasnya. Ia segera berwudhu dan tanpa disadari air mata berderai dibalik air wudhunya. Hatinya bimbang, bergelombang-gelombang seolah tak dapat menerima kenyataan ini. Lili, seorang wanita yang sangat dicintainya, memilih pria lain. Tak dapat dipungkiri, sekuat apapun hati Nazrul, ia tak kuasa menahan perihnya.

Bagai serpih pasir dipantai tersapu gelombang pasang. Begitulah hatiku, perih…, perih sekali…, terhantam karang, terbawa ombak. Patah…, kau patahkan cerita kita berdua. Remuk…, kau remukkan harapan yang tumbuh di hati.

Nazrul sedang sholat. Dalam sholatnya itu, tak bisa lagi ia menahan air matanya. Tak pernah sebelumnya ia menangis dalam sholatnya. Begitu dalam luka hatinya, perih rasanya. Ia beranggapan lebih baik hatinya tersayat pisau daripada seperti ini.

“Asalamualaiku waroh matullah…” imam sholat bersalam.

Jemaah sholat mengikuti dengan bersalam, tapi ada beberapa yang berdiri kembali untuk menyempurnakan rakaat sholatnya. Masing-masing orang berdzikir dan berdoa pada Allah. Begitu juga Nazrul, dalam linangan air mata, ia berdoa pada Allah, mengadukan masalahnya, memohon kekuatan pada-Nya.

Bayu yang melihat hal itu segera mendekati Nazrul, ia diam sejenak menunggu respon dari Nazrul. Melihat Bayu disampingnya, Nazrul segera mendekatinya. Mata Nazrul tampak bengkak, terlihat sekali dia baru saja menangis.

“Yu…, huk…huk…huk, dia…” kata Nazrul sambil cegukan.

“Udah…, tenangin dulu hati lo!” Bayu menenangkan.

Mereka berdua berpindah ke dinding belakang Mushola. Semakin lama, mushola semakin sepi. Nazrul yang mulai tenang angkat bicara.

“Yu…, gue sedih banget.”

“Ya udah…, sekarang lo ceritain semuanya ama gue!”

“Lo tau kan si Lili? Gue cinta banget ama dia Yu! Gue cinta banget!”

“Terus… kenapa lo nangis?”

“Dia…, dia jadian ama cowok laen!” kata Nazrul.

Bayu berpikir sejenak sambil menenangkan Nazrul.

“Rul, jadi lo nangis karena itu? Lo juga sholat sambil nangis karena itu? Lo berdoa juga sambil nangis karena itu?” tanya Bayu.

“Iya Yu! Gue berdoa pada Allah supaya gue dikuatin, terus gue minta supaya si Lili juga cinta ama gue.” Jawab Nazrul parau.

“Bagus lah!”

“Apanya yang bagus! Lo ngeledek gue Yu?”

“Ia bagus lu berdoa ketika sholat.”

“Pada tahun ke-10 kenabian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengalami kesedihan yang amat besar. Paman beliau yaitu Abu Thalib, meninggal dalam keadaan yang belum masuk Islam. Istri Rasulullah, Siti Khadidjah juga meninggal di tahun itu. Embargo dari kaum musyrikin juga sangat parah. Itu semua sangat membuat Nabi sedih. Namun, di tahun itu, Rasulullah SAW dihibur dengan peristiwa yang amat besar, Isra dan Mi’raj. Dalam peristiwa itu, Rasulullah diberi perintah langsung untuk melaksanakan Sholat.”

“Kita ambil hikmahnya. Dalam keadaan senang maupun susah, kita harus sholat. Insya Allah Rul, masalah lo bakal ada jawabannya dari Allah. Gue cuma bisa nyaranin supaya lo sholat malem terus berdoa padaNya.”

“Iya Yu, gue bakal lakuin itu. Makasih ya Yu, lo dah nemenin gue.”

“Sama-sama, moga lo cepet baek.”

Nazrul dan Bayu meninggalkan mushola dan pulang ke kosan masing-masing.

Setelah hari itu, Nazrul tampak jadi pendiam. Ia jarang sekali bicara. Nazrul sedang berusaha membunuh cintanya pada Lili. Namun, semakin ia berusaha melupakan Lili, rasa cinta itu semakin besar dan bergejolak di hatinya.

***

“Rul, kita pulang yuk!” kata Lili dari jendela kelas Nazrul.

“Nggak ah Lil, gue mau sholat dulu. Lo jalan aja ama si Irwan.” Jawab Nazrul.

“Gile lo! Si Irwan kan jauh kampusnya, masa gue harus ke kampusnya dulu! Ya udah, lo sholat dulu, gue tunggu di depan ya! Gue lagi ga sholat nih.”

“Bener ya lo mau nunggu?!”

“Iya.” Jawab Lili.

Mereka berjalan menuju mushola. Lili agak heran dengan kelakuan Nazrul, biasanya kalau Ia berjalan dengan Nazrul, pasti ada canda tawa. Kini Nazrul hanya diam. Beberapa kali Nazrul tak menjawab pertanyaan Lili. Hal ini cukup mengganggunya.

Ketika mereka sampai di mushola, Lili melihat Nazrul yang membuka sepatunya dan siap berwudhu. Ketika Nazrul hendak berwudhu, ia menoleh ke arah Lili. Saat itulah dua pasang mata saling berpandangan. Lili melihat ada sesuatu dibalik mata Nazrul. Sebelumnya Lili sudah sadar apa yang menimpa sobatnya itu. Kini Lili semakin yakin akan kebenarannya.

Setelah sekitar 10 detik berpandangan, mereka tersenyum. Nazrul segera berjalan ke tempat wudhu. Lili berpaling ke arah kantin. Ia berjalan kesana dan duduk merenung memikirkan Nazrul.

Hati yang bimbang membuatmu tak karuan. Ku terdiam melihatnya. Dirimu membuatku terhanyut dalam kasih yang mendalam. Kau pun tersenyum padaku, tetapi hati pilumu membuatku sedih. -Lili dalam diarynya-

Lili menulis sebuah surat untuk Nazrul. Tanpa disadari, air mata Lili pun sedikit mengalir. Goresan tinta biru pada suratnya cukup indah. Lili menyadari mengungkapkan semuanya. Ia terhanyut dalam kata-katanya sendiri. Amplop cokelat muda menutup suratnya itu.

“Lil, gue dah selesai, yuk kita pulang!” Nazrul mengajak.

“Yuk!”

Nazrul dan Lili berjalan keluar kampus. Di depan sekolah itu terdapat jalan raya. Mereka hendak menyebranginya.

Tiba-tiba…

“Nazrul…!! Awas…!!” Lili berteriak sambil mendorong Nazrul hingga terjatuh.

“Drakk…!” suara sepeda motor yang menabrak Lili. Lili terlempar dan terjatuh.

“Aaaaa….!” Orang-orang sekitar berteriak.

“Lili…..!!!!” teriak Nazrul yang spontan mendekati Lili. Nazrul segera mengangkat Lili. Ia menyetop angkot untuk membawa Lili ke rumah sakit. Beberapa mahasiswa ikut naik termasuk Bayu.

“Lil! Dengerin gue!” kata Nazrul sambil memeluk Lili.

“Rul…, maafin gue…!” kata Lili pelan.

“Lil, bertahan Lil!! Gue mau ngomong ama lo!” Nazrul semakin panik.

“Gue dah tau Rul, gue tau apa yang mau lo omongin. Di surat ini, ada jawabannya… Hm..” Lili memberikan amplop cokelat muda itu. Dia langsung tak sadarkan diri.

Setibanya di rumah sakit, Lili segera dibawa ke UGD. Nazrul dilarang masuk. Ia menunggu diluar.

Dengan penuh kekhawatiran, ia berdoa supaya Lili selamat.

“Ya Allah! Jika aku bisa, biarkanlah aku yang celaka. Kenapa mesti dia Ya Allah!”
Dibukanya amplop cokelat muda pemberian Lili. Nazrul segera membacanya.

Dear Nazrul

Rul, selama ini gue nggak tahu perasaan lo ke gue. Namun tatapan mata lo udah ngasih tau gue kalo lo tu cinta ama gue.

Rul…, maafin…, maafin gue! Gue nggak bisa ngebales cinta lo yang begitu besar ke gue. Gue juga sadar betapa sakit hati lo waktu tau gue jadian ama Irwan. Seandainya waktu bisa diputar…, gue ga bakalan nyakitin lo Rul!

Gue nggak bisa nemenin lo waktu lo susah, gue ga bisa dengerin curhatan lo, maafin gue…, maafin gue Rul! Gue nyesel nggak bisa ngebahagiain lo.

Tapi Rul, lo mesti inget, ada yang mencintai lo lebih dari gue. Cinta yang amat besar buat lo! Itulah Cinta Allah. Ingatlah waktu lo lagi susah! Lo aduin semua pada-Nya, lo curhat ama Dia! Lo memohon ama Dia! Sekarang, apa lo masih berpaling ama gue! Sementara Allah, tempat curhat lo malah lo lupain! Betapa sakitnya lo waktu gue nggak ngebales cinta lo. Sekarang gimana Allah nggak marah ke lo sementara Dia mencintai lo, tapi lo malah berpaling ke gue! Lo Cuma deket ama Allah kalo lo butuh doang! Padahal Dia sangat mencintai makhluk-Nya.
Cintailah Allah! Balas cinta-Nya pada lo! Cintai Rasulullah saw! yang mencintai lo sebagai umatnya. Cintai kaum muslimin! Teman seiman kita, teman kita di surga kelak, insya Allah.

Gue juga mau ngasih tau, gue dah putus ama Irwan. Sekarang gue dah inget sama Allah. Sekarang gue jadi muslimah yang baik. Doain supaya gue diampuni Allah! Doain ya Rul!

Kalo memang kita jodoh, ga bakal deh lepas gitu aja. Allah yang ngatur! Maafin gue ya! Jangan lupa doain gue!

Lili

Nazrul menutup surat itu dan segeralah ia beristighfar meminta ampun kepada Allah. Ia menyesali keadaannya. Mengapakah ia lupa akan cinta Allah? Padahal Allah begitu menyayangi dan mengasihinya.

Di tengah penyesalan itu Nazrul meneteskan air mata. Untuk kedua kalinya Bayu mendekati Nazrul yang sedang menangis.

“Yu…” suara Nazrul lirih.

“Ya?” jawab Bayu pelan.

“Gue banyak dosa Yu! Gue nyesel!”

“Dah, sabar. Gue pernah bilang lo bakal dapetin jawaban dari Allah. Ini adalah sebagian kecil dari kuasa-Nya. Lo nggak bakalan nyesel mencintai Allah, cinta lo nggak bakalan bertepuk sebelah tangan. Boleh kita mencintai sesuatu selain Allah, tapi jangan berlebihan! Sebab bisa jadi yang lo cintain itu hilang gitu aja.” Bayu menenangkan Nazrul.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat melewati Nazrul dan Bayu.

“Suster! Gimana keadaan Lili?” tanya Nazrul.

“Dia hanya shock dan luka sedikit, jangan kuatir! Seminggu juga sembuh.” Jawab suster.

“Alhamdulillah.” Ucap Bayu.

Saat itu juga Nazrul mencari tempat bersih lalu ia melakukan sujud syukur.

***

10 bulan kemudian…

“Alhamduillah SKL kita dah keluar”, kata Lili pada Nazrul.

“Lil, gue dah diterima di perusahaan IT besar nih. Gue juga mau coba lanjutin S2”, kata Nazrul

“Waw, selamet deh!” Lili antusias.

“Lil, sebenernya gue mau di semester pertama kuliah S2 gue, lo ada di sisi gue.”

“Maksud lo?!” kata Lili dengan senyuman.

“Mau ga lo jadi istri gue?” tanya Nazrul.

“Mang lu dah siap?” tanya Lili.

“Hm.. Lu tau kan gini-gini gue juga suka nyambi jadi kuli koding. Gue juga dah ngeberesin beberapa projek besar. Alhamdulillah dah ada dana terkumpul.” kata Nazrul.

->ekspresi Lili.

“Gue ga tau Rul…” jawab Lili sambil malu-malu.

“Lu harus yakin Lil… Gue yakin orang tua lu ngizinin” Nazrul antusias.

“Sebenernya sih ia… orang tua gue dah ngasih lampu hijau Rul ” kata Lili.

“Terus?”

“Gua .. hm” Lili spechless.

“So?” Nazrul cemas.

“Emm… Gini aja, tanggal 1 bulan depan lo ajak bapak ibu lo ke rumah gue. Lo pinang gue!” seru Lili.

“Bener Lil? Gue seneng banget!” Nazrul gembira.

Lima bulan kemudian, Nazrul dan Lili menikah. Mereka jadi keluarga muda yang sakinah.

***

Untuk cintaku (siapa yah???)

 

(Cerpen lamaku, dengan sedikit editan untuk versi kampus ^^)

Cintaku Di Pinggir Jalan


Angin berlari mengejar hangat mentari, menggendong debu dan menyapa setiap yang ia temui seperti sentuhan ghaib, ia meraba tubuhku yang lemas ini, ma’lum lah aku baru pulang dari Puskesmas diantar ibu yang dari tadi menasehatiku agar aku menuruti perintah dokter. memang sih kelihatannya cerewet banget, tapi itulah ungkapan rasa sayangnya yang tak pernah minta balas. Kata dokter aku nggak apa-apa, hanya kurang berolah raga, yah minimal lari pagi seminggu sekali, jujur aja bagi aku yang males bangun pagi apalagi hari Minggu, rasanya itu sangat berat.

Setelah aku merasa sehat, aku meminta ibuku agar mengingatkanku tuk lari pagi di hari Minggu, yah… mungkin hanya hari itu aku bisa karena hari lain aku harus kuliah.

***

“Udin… Udin…!” ibuku membangunkanku. Sebenarnya namaku Rafiudin, temanku panggil aku Rafi dan hanya keluargaku yang memanggilku Udin.

“Ya… Apa Bu?” sambil mengucek mata aku bangun dari tidur nyenyakku.

“Udah subuh, sholat sana! Katanya mau lari pagi.” Tanpa kata dan hanya menguap aku langsung pergi sholat.

“Din…! Kok mau tidur lagi? Katanya mau olah raga?!”

“Dingin Bu, siangan aja nanti.” Alasanku sambil membanting diri ke kasur.

“Jangan males-malesan gitu ah! Kalo sakit kamu juga yang rugi.” Ibuku sedikit memaksa.

“Iya… ibuku yang baik.”

Dengan penuh kemalasan aku paksakan juga untuk lari pagi. Tak kusangka ternyata banyakan juga yang lari pagi. Ada yang berpasangan, ada yang bergerombol dan ada juga yang sendiri seperti aku.

Mungkin udah 15 menit aku lari, tiba-tiba aja perempuan yang kebeneran ada di depan kesenggol kakinya.

“Aaau… sakit banget!” jerit dia kesakitan.

“Kenapa? Keseleo?” aku berusaha menolong.

“Udah tau keseleo, ditanya! Bukannya ditolongin!” sedikit jutek ia menjawab.

“Coba duduk di sini, aku urut kakinya!”

“Aduh…” dengan rintihan sakit ia pun duduk di bawah pohon pinggir jalan.

“Boleh aku buka sepatunya?” ia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala.

“Maaf ya…” akhirnya kubuka sepatu dan kaos kakinya. Terlihatlah kakinya yang putih dan mungil.

“Aku urut ya, tahan!”

“Aduh… pelan-pelan dong, sakit nih!”

“Iya, iya, tahan biar cepet sembuh.” Untung sedikit-sedikit aku bisa mengurut. Jujur ketika merintih menahan sakit wajahnya terlihat amat cantik, akupun jadi grogi ditambah tangannya meremas pundakku.

“Aduh…, pelan-pelan dong!”

“Iya bentar lagi, tahan!… Nah, udah kelar deh. Insya Allah sembuh dan dijamin bisa langsung lari.” Aku yang berlaga seperti tukang urut beneran.

“Oh iya udah nggak sakit lagi, terimakasih yah!”
Iapun tersenyum sambil memakai sepatunya lagi. Kini wajahnya lebih cantik. “Kalau aku tahu di pinggir jalan ada bunga secantik ini mungkin udah dari dulu aku lari pagi.” Gumamku.

“Apa kamu bilang?”

“Oh… nggak.” AKu ngeles, untung aja ia nggak denger.

“Sekali lagi makasih yah… Daaah…” ia pergi dengan berlari kecil meninggalkanku yang masih terpaku melihatnya.

“Hai… tunggu! Nama kamu siapa? sambil teriak aku bertanya tapi sedikitpun ia tak menoleh. Mungkin terlalu jauh hingga suaraku tak terdengar.

“Aduh sial! Kenapa gua nggak tanya namanya?!” sambil menyesali diri aku lihat handukku tertukar dengan handuk dia.

“Buju bune handuk gua ketuker, mudah-mudahan ini tanda bahwa aku pasti ketemu dia lagi.”

***

Hari Minggu berikutnya aku semangat bangun pagi. Setelah sholat subuh aku langsung pamit untuk lari pagi. Waktu itu orang tuaku sedikit heran melihat aku yang semangat. Aku berlari sampai pada tempat aku menolong wanita itu. Aku tunggu dia. Tak lama iapun lewat.

“Hai…!” sapaku memanggil.

“Kamu, yang waktu itu nolong aku kan?”

“Iya, ini handuk kamu, kayaknya ketuker deh ama handukkku.” Aku langsung pada inti masalah.

“Oh iya, makasih ya…! Ini handuk kamu, aku dah cuci, habis bauh sih…” dia mengajak bercanda.

Mulai dari situ kita terus bercanda sambil lari berdua. Tak tahu kenapa kami langsung akrab dan seperti sudah lama kenal.

Keenakan lari kami tak sadar bahwa kami telah berada jauh dari rumah. Haripun sudah sedikit siang. Akhirnya kami balik arah pulang jalan kaki sambil cerita-cerita, menambah kedekatan.

Waktu itu hatiku berbunga-bunga ditambah ketika tak sengaja aku pegang tangannya, diapun tak menolak. Akhirnya kami jalan sambil pegangan tangan.
Tibalah kami di persimpangan jalan. Aku harus berpisah dengannya.

“Oh iya, kayaknya kita berpisah di sini.: katanya sambil menghentikan langkah kami.

“Oh iya, kapan-kapan kita lari bareng lagi yah!”

“Kapan-kapan.” Jawabnya singkat.

Aku tak tahu dorongan setan mana yang membuatku meraih kedua tangannya dan menatapnya tajam. Getaran hatipun terasa, detak nadi mengencang. Aliran darah pun terasa cepat. Aku tambah bergetar ketika ia menutup mata seolah memberi kesempatanku untuk menciumnya. Dengan detak jantung yang mengencang akupun menutup mataku untuk menciumnya. Aku tak menyangka bahwa aku akan berciuman dengan gadis cantik berkulit putih dan rambut panjang yang diikat.
Semakin dekat bibirku dengan bibirnya dan…..

“Udin…! Udin…!” suara itu terdengar seperti suara ibuku.

“Udah subuh! Bangun!” aku pun terperanjat kaget oleh suara Ibuku.

“Hah… hanya mimpi.” Sesaat aku menyayangkan semua ini. Akupun sholat subuh.

“Oh iya Din, gimana udah baikan?” sapa sayang ibuku.

“Alhamdulillah,” jawabku dengan senyuman.

“Din…, katanya kamu mau olah raga? Kan kata dokter kamu itu kurang olah raga.:

“Emangnya hari ini hari apa Bu?” tanyaku.

“Hari Minggu” jelsa ibuku.

“Hari Minggu… asik…! Udin mau lari pagi Bu!” dengan semangat dan bayang wajah perempuan yang belum sepat kutanya namanya membuat aku lupa bahwa aku baru sembuh.

“Din… ini pake handuk ini!”

“Hah…? Handuk ini kan punya wanita itu!”

 

(Diterbitkan di Majalah Sekolah Anda Edisi 2Tahun VI, SMAN 1 Leuwiliang. Editor: Arief Hidayatulloh, Pengarang: –tidak terdokumentasi–)

Menyikapi Rasa Cinta (chat with Ust. Kurniawan)


Ini hasil chatting dengan Ust. Alif Kurniawan, guru spiritual saya dalam management hati. Tema kita kali ini adalah bagaimana menyikapi rasa cinta di bangku kuliah. Oke berikut inti chatnya (edited dikit):

Yang namanya cinta itu kan asalnya dari Allah, makanya caranya juga harus dari Allah juga. Kalo udah siap, nikah adalah jalan yang terbaik, inget, kalo udah SIAP hhe.

Pak ustadz, kalo belum siap gimana?

Kalo belum,

belajarlah untuk mengikhlaskan

koq gitu?

5:38 AM me: hm

terus?

alif: 1. Belum tentu dia jadi istri lu

5:39 AM 2. Setan pasti bakalan dengan mudah ngeganggu ibadah2 lu dengan bayang2 dia

me: belajar mengikhlaskan?

alif: mengikhlaskan merelakan dia

hha

5:40 AM toh kalo jodoh gak kemana rif

Yang namanya jodoh itu,

dengan cara apapun

baik dengan cara yang benar

maupun zina sekalipun

pasti bakalan nikah.

masalahnya

5:41 AM lu mau lewat jalur mana

Jalur penuh keberkahan

atau jalan penuh kenistaan

kerasa berkah atau nggaknya,

ketika lu udah nikah nanti

5:42 AM me: so….

alif: Persiapkan diri aja dulu

kayak

cepet lulus

cepet dapet kerja

5:43 AM cepet dapetin ilmu

baru ntar siapa nya

mungkin saat ini lu suka sama dia

tapi mungkin ntar malah yang lain

5:44 AM me: kalo sekarang suka ma dia, tapi nanti suka ma yang lain juga, tanpa mengurangi suka ma dia, apa harus mendua?

*hehe

5:45 AM alif: belum dapet 1 udah pengen dua

parah lu

hha

me: xixi… becanda Lif

alif: dapet dari pengalaman orang2 yang mau nikah,

me: w sih pengennya satu aja…. kalo mendua takut istri ane kenapa2

5:46 AM alif: dia suka sama seseorang

udah lama

me: ters?

alif: dari kuliah

me: terus?

alif: tapi karena dia tau kalo pacaran itu gak boleh makanya dia pendem aja

5:47 AM me: terus?

alif: pas dia udah siap dan melakukan ta’aruf, ternyata dia ngerasa gak cocok

5:48 AM pas dikenalin dengan orang lain sama temannya, eh langsung cocok

namanya jodoh.

udah ada yang ngatur

hhe

me: oh gitu

5:49 AM terus ada lagi ga?

ayo ceritain…….

alif: ada lagi sih

tapi pas ketemu aja lah

hhe

5:50 AM intinya sih gini rif

untuk saat ini lebih baik kita SIAP nya dulu

baru SIAPA nya

hhe

5:55 AM me: siap

ane buat ah pengajian ah di Facebook.

alif: hah?

5:56 AM sip2

asal sumbernya jelas

dan gak bingin ngantuk rif

*suka tidur di pengajian

me: sumbernya kan ustadz Alif

alif: .

5:57 AM cabut dulu rif

mau berangkat gw ke BPPT

assalamu’alaykum

me: oke

waalaikum salam

syukron

katsiron

6:00 AM alif: afwan

[Privasi Cowok] Bedanya Ikhwan dan Cowok


Tidak semua Ikhwan/Pria dewasa menjadi ‘Ikhwan’, ada juga yang masih begitu ‘cowok’ setelah umurnya mencapai 40. Tenaaaang, jangan keburu marah dulu dengan kenyataan ini, mungkin memang sebagian orang dilahirkan untuk jadi ‘Ikhwan’, tapi memang ada juga yang cukup menjadi ‘cowok’ saja. Sekali lagi, jangan khawatir, masih ada waktu bagi diri Anda untuk menjadi seorang Ikhwan (I). Walaupun menjadi cowok (C) memang mempunyai kelucuan tersendiri!

Inilah Perbedaan mendasar antara seorang IKHWAN dan COWOK

I: Tahu jelas lima tahun lagi ia mau jadi apa
C: Tidak jelas lima menit lagi ia mau berbuat apa

I: Jago membuat semua orang merasa tenang
C: Jago membuat cewek merasa senang

I: Bacaannya Tarbawi, mainannya Dakwah Konsepsi, tontonannya Islami
C: Bacaannya Playboy, mainannya bilyar, tontonannya Musik TV

I: Sebelum umur 30 sudah banyak uang
C: Sebelum umur 30 sudah banyak dosa

I: Seimbang antara penghasilan dan pemasukan
C: Seimbang antara hutang dan pembayaran minimum

I: Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan
C: Punya salon, kafe dan bengkel langganan

I: Tidak menerima/diterima calonnya setelah ta’aruf dengan berserah diri pada Allah dan mengakui sulitnya menjembatani perbedaan antar mereka berdua, diiringi ucapan, “Kita tetap bisa berteman dan bersaudara di jalan Allah selamanya.”
C: Putus dengan pasangannya sambil kabur dari rumah, menyesali nasib plus ucapan, “Jangan undang aku ke pernikahanmu nanti!”

I: Mencintai wanita 10% pada saat akad nikah dan meningkat terus
C: Mencintai wanita 100% sebelum akad nikah dan menurun terus

I: Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun saat berusia 17 tahun
C: Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun sat berusia 40 tahun

I: Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik
C: Cuma bisa ngamuk, adu mulut, n adu otot kalo konflik

I: Mikirnya “Aku masih kurang pengetahuan, harus belajar lebih banyak”
C: Mikirnya “Aku yang terhebat di muka bumi, siapapun aku hadapin!!!”

I: Otak no 1, digabungi otot kalo kepaksa
C: Otot no1, ditambah otak kalo punya

Khutbah di Masjid Puspitek


Hari ini hari ke 5 PKL di BATAN Serpong. Kami, Rifky, Cipta, Tedi dan saya jumatan di Masjid Darul Ulum, mesjid langganan kami. Kami berangkat ke Mesjid tersebut dengan menumpang Bus BATAN. Khatibnya keren banget, dia membawakan nasihat dengan nada-nada yang tidak membosankan. Begini intinya:

Hidup di dunia ini seperti tamasya, betapapun indahnya tempat wisata itu, pastinya kita akan pulang bersama rombongan. Kita dibatasi oleh waktu, seorang direktur akan diputus oleh waktu, seorang manager juga akan diputus oleh waktu, kita sebagai khalifah akan diputus oleh waktu. Begitulah kita, suatu saat kita akan berpulang ke asal kita.

Ada sebuah perumpamaan hidup ini seperti ketika kita pergi ke Jakarta 1 bulan saja tanpa membawa SIM. Apa yang terjadi? ketika kita melihat sekumpulan polisi dari jauh, hati kita was-was, padahal belum tentu polisi itu akan merazia seluruh kendaraan. Lihatlah bekal SIM sangat penting untuk mengamankan kita dan menentramkan hati kita. Dari kisah ini, kita dapat mengambil hikmah, untuk bepergian di dunia yang tidak kekal saja kita butuh bekal, apalagi nanti kita akan pergi ke Akhirat. Kita harus punya bekal agar kita selamat dalam kehidupan kekal kelak.

Masih ada waktu untuk kita memperbaiki semua. Masih ada waktu bagi kita untuk meningkatkan ibadah kita, untuk memohon Ampun kepada Allah. Jauhilah maksiat, mohon ampun atas segala kezaliman yang telah kita lakukan. Semoga dengan memanfaatkan sisa-sisa waktu hidup kita, kita dapat kembali berpulang dengan KHUSNUL KHOTIMAH.

Itu inti khutbah yang cukup lama namun tidak membosankan. Setelah sadar dan menyesali segala perbuatan kami, kami berdzikir, sholat sunnah dan beristighfar. Dari masjid kami menuju puspitek dan ternyata kami “KETINGGALAN BUS”.. jalan kaki deh…