Sam si Programmer (Part 2)


Artikel ini sambungan dari https://ariefsam.wordpress.com/2011/05/06/sam-si-programmer/

Sam mendengar tangisan Cahaya, pelan-pelan Sam membuka matanya, samar-samar ia melihat wajah Cahaya. Sedikit demi sedikit wajah manis itu semakin jelas terlihat olehnya. Terbayang bagaimana dahulu kisah manis mereka berdua mewarnai hari-harinya. Sam tersenyum, hingga kemudian wajah manis itu kembali menjadi samar kembali. Sam tak sadarkan diri….

*gelap*

***

Mata itu mencoba terbuka, melihat ke sekitar. Dengan sedikit berusaha, akhirnya pandangannya jelas. Terdengar olehnya suara alat deteksi nadi yang khas. Ia mencoba memahami sedang berada dimana dirinya. Sam melihat ke kiri, ke arah pintu, terlihat olehnya tulisan “HCU”. Setelah itu ia menurunkan pandangannya, Sam melihat seorang gadis yang tertidur pulas di dekat bahu kirinya, Cahaya. Sang gadis terbangun, menaikkan kepalanya dan melihat ke arah Sam.

“Kamu sudah bangun”, ujar Cahaya dengan senyum dan nada manja.

“Iya… kok kamu ada di sini?”, tanya Sam.

“Ya nengokin kamu lah Sam”, jawab Cahaya dengan girang.

==================================================
Penulis lagi capek… udahan aja ya cerpennya… Endingnya gini… mereka balikan lagi…. terus nikah deh….

Iklan

Cintaku Amat Suci (new edition)


Hari yang indah. Mentari pagi menyinari alam ini, menghangatkan semua yang ada di permukaan bumi. Sinar itu juga menghangatkan tubuh dan hati seorang lelaki yang duduk termangu di bangku taman kampus. Kilauan embun di rumput tak henti-henti menghiburnya, mengingatkannya atas Kuasa Allah, Sang Pencipta alam ini, memberinya semangat yang membara. Tekadnya semakin kuat bahwa hari ini akan jauh lebih baik dari hari kemarin.

“Doorrr…..!!!” seseorang mengagetkan Nazrul, membuyarkan lamunannya.

Nazrul menoleh, dan ia melihat seorang wanita.

“Eh Lili, bikin kaget aja!!”

“Abis…, lo ngelamun aja!”

“Mang ada apa Lil?” tanya Nazrul.

“Lo dah ngerjain PR Sispak belom?”

“Udah dong! Emangnya elo!”

“Ah, sebenernya gue tuh mau ngerjain, tapi gimana lagi?! Gue nggak bisa. Boleh kan gue nyontek PR lo? Gue sengaja dateng pagi buat nyontek!”

“Ya udah, nih.” Nazrul memberikan buku Sispaknya pada Lili.

“Makacih ya! Gue mau ke kelas dulu. Tar gue balikin bukunya abis kuliah SI. Kelas SI lu di Ofac kan ya?”

“Iya.”

“Daahh…!”

Lili segera meninggalkan Nazrul. Dalam hati kecilnya, Nazrul berkata-kata.

“Lil, kenapa obrolan kita begitu cepat? Aku menyesal tak menahan kau lebih lama. Bersamamu aku senang, di dekatmu aku tenang.”

******

“Terimakasih”, terlihatlah slide kuliah terakhir dosen yang sangat ditunggu-tunggu apra mahasiswa. Nazrul memasukkan peralatan kuliahnya ke tas. Ia meraba kantong celananya dan menemukan uang. Terbesit niat dalam hatinya ingin jajan ke kantin. Perutnya tak bisa kompromi, ia berjalan begitu cepat ke arah pintu kelasnya.
Di depan pintu…

“Aau….!”

“Dug..”

Nazrul menabrak seseorang hingga terjatuh.

“Aduh… hati-hati dong Rul!”

“Eh, maaf Lil! Gue nggak sengaja.” kata Nazrul sambil mengulurkan tangan ke Lili.

“Ya udah nggak apa-apa.” Lili menerima sambutan tangan dari Nazrul. “Nih! Gue mo ngembaliin buku Sispak lo.”

“Sini, gue periksa dulu, lecek nggak nih!”

“Ah elo! Kaya ga tau gue aja. Gue tu apik.” Kata Lili bersuara sedang.

“Lil, ke kantin yu! Gue laper.”

” Yuk! Gue juga laper.”

Mereka berdua pergi ke kantin. Di sana terlihat banyak mahasiswa yang jajan dan ngobrol.

“Rul, kita beli somay aja yuk!” Lili menarik tangan Nazrul ke tukang somay.

“Iya, kita beli somay. Tapi jangan narik-narik gini dong!” kata Nazrul tak sesuai dengan hatinya. Senang sekali rasanya ia ditarik oleh Lili.

“Bang, dua ya! Campur!” kata Lili pada tukang somay.

“Tunggu bentar ya Neng!” jawab tukang somay. Tukang somay segera menyiapkan pesanan mereka.

Sambil menunggu…

“Lil, ada yang mau gue omongin.” Kata Nazrul pelan.

“Ngomong ya ngomong aja, ngga usah pake kata-kata pembuka segala!” kata Lili santai.

“Ini serius Lil!”

“Ya udah, ngomong aja!”

“Gini Lil, dari semenjak kita…”

“Eh, salah tuh!” kata Lili memotong pembicaraan.

“Salah apanya?”

“Dalam bahasa Indonesia, nggak ada kata dari semenjak.”

“Oh…, iya deh. Begini, semenjak kita berteman waktu SMP, kan cocok-cocok aja, jarang banget selek.” Nazrul berhenti berkata, meminta balasan dari Lili.

“Iya, kita dah berteman dari SMP, mang kenapa?”

“Emm…” Nazrul tak meneruskan kata-katanya.

“Kenapa sih?”

Nazrul terdiam, namun segera ia angkat bicara.

“Sebenernya gue… gue itu…”

“Neng! Jang! Ni somaynya.” Tukang somay memotong pembicaraan.

“Makasih bang!” jawab Lili.

Setelah itu mereka makan. Nazrul mengurunkan niat tuk mengungkapkan perasaannya pada Lili.

***

Sorenya…

“Lil, gimana hubungan lo ama si Irwan?” tanya Lusi.

“Oh iya, gue mau ngasih tau lo, kemaren sore gue ama Irwan ketemu. Dia nembak gue.” Lili menjelaskan.

“Terus Lil, lo terima ga?”

“Ya, gue terima aja. Abisnya dia baek, ganteng en yang pasti gue juga suka ama dia.” kata Lili sambil senyum-senyum.

“Bagus deh Lil. Tapi lo mau ngapain aja ama pacar pertama lo itu?” tanya Lusi.

“Gue sih nggak mau macem-macem, paling cuma jalan, shoping ama ngobrol-ngobrol, itu aja.”

“Yah…, itu mah ama temen laki yang laen juga bisa. Maksud gue lo bakal ngelakuin yang enak-enak ga kaya pelukan dan laen-laen?” Lusi berkata bernada ngejek.

” Ih, amit-amit deh kaya gitu!” Lili membantah.

***

“Sekian”, terpampang slide kuliah sispak terakhir di depan kelas.

Nazrul tidak segera pulang. Ia membaca-baca kembali pelajaran PSBOnya.

“Nazrul! Gue belum ngerti activity diagram nih!” kata Lili.

“Apanya yang belom ngerti?”

“Kenapa bisa begini?”

“Gini, ini adalah kita sebagai user. Disini menjelaskan apa yang dilakukan user. Nah, dari sini ada panah ke system, nah disini itu adalah segala sesuatu yang dikerjakan user.”

“Oh…”

Nazrul menjelaskan pelajaran PSBO pada Lili. Lili yang manggut-manggut tak pernah lepas dari pandangan Nazrul. Nazrul terus melihat wajah Lili yang cantik. Suara Lili pun begitu indahnya yang membuat Nazrul semakin bersemangat.

“Oh, gitu toh! Makasih ya Rul!” kata Lili sambil beranjak dari duduknya.

“Tunggu Lil, ada yang mau gue omongin.”

“Ih…, dari kemaren. Mau ngomong susah amat. Mang mau ngomong apa?” tanya Lili.

“Gue…  ” Nazrul terbata-bata.

“Tuh kan! Yang serius dong!”

“Gue…”

“Dug tak.. dug taktak dug…”

Pembicaraan terpotong oleh suara ponsel Lili. Lili segera melihat dan mengoprek ponselnya.

“Sialan!” kata Lili sambil tersenyum.

“Kenapa Lil?” Nazrul penasaran.

“Liat deh ini!” kata Lili sambil memberikan ponselnya.

Nazrul melihat ponsel Lili dan membaca smsnya.

Lili, wajahmu…bopeng.
Suaramu…cempreng.
Tubuhmu…kerempeng.
Namun cintaku…ngabereleng.

“Dari siapa Lil?” Nazrul bertanya dengan cemas.

“Dari Irwan, baru dua hari jadian, ga ada romantis-romantisnya tu anak!” jawab Lili.

“Jadian?!” Nazrul berusaha menahan gejolak di hatinya..

“Oh iya, gue lupa ngasih tau lo, dua hari yang lalu gue jadian ama si Irwan.”

Jawaban yang tak diharapkan. Nazrul tak kuasa menahan hatinya. Tanpa berkata-kata lagi, Nazrul langsung berpaling dan berlari menuju Mushola Fakultasnya. Ia segera berwudhu dan tanpa disadari air mata berderai dibalik air wudhunya. Hatinya bimbang, bergelombang-gelombang seolah tak dapat menerima kenyataan ini. Lili, seorang wanita yang sangat dicintainya, memilih pria lain. Tak dapat dipungkiri, sekuat apapun hati Nazrul, ia tak kuasa menahan perihnya.

Bagai serpih pasir dipantai tersapu gelombang pasang. Begitulah hatiku, perih…, perih sekali…, terhantam karang, terbawa ombak. Patah…, kau patahkan cerita kita berdua. Remuk…, kau remukkan harapan yang tumbuh di hati.

Nazrul sedang sholat. Dalam sholatnya itu, tak bisa lagi ia menahan air matanya. Tak pernah sebelumnya ia menangis dalam sholatnya. Begitu dalam luka hatinya, perih rasanya. Ia beranggapan lebih baik hatinya tersayat pisau daripada seperti ini.

“Asalamualaiku waroh matullah…” imam sholat bersalam.

Jemaah sholat mengikuti dengan bersalam, tapi ada beberapa yang berdiri kembali untuk menyempurnakan rakaat sholatnya. Masing-masing orang berdzikir dan berdoa pada Allah. Begitu juga Nazrul, dalam linangan air mata, ia berdoa pada Allah, mengadukan masalahnya, memohon kekuatan pada-Nya.

Bayu yang melihat hal itu segera mendekati Nazrul, ia diam sejenak menunggu respon dari Nazrul. Melihat Bayu disampingnya, Nazrul segera mendekatinya. Mata Nazrul tampak bengkak, terlihat sekali dia baru saja menangis.

“Yu…, huk…huk…huk, dia…” kata Nazrul sambil cegukan.

“Udah…, tenangin dulu hati lo!” Bayu menenangkan.

Mereka berdua berpindah ke dinding belakang Mushola. Semakin lama, mushola semakin sepi. Nazrul yang mulai tenang angkat bicara.

“Yu…, gue sedih banget.”

“Ya udah…, sekarang lo ceritain semuanya ama gue!”

“Lo tau kan si Lili? Gue cinta banget ama dia Yu! Gue cinta banget!”

“Terus… kenapa lo nangis?”

“Dia…, dia jadian ama cowok laen!” kata Nazrul.

Bayu berpikir sejenak sambil menenangkan Nazrul.

“Rul, jadi lo nangis karena itu? Lo juga sholat sambil nangis karena itu? Lo berdoa juga sambil nangis karena itu?” tanya Bayu.

“Iya Yu! Gue berdoa pada Allah supaya gue dikuatin, terus gue minta supaya si Lili juga cinta ama gue.” Jawab Nazrul parau.

“Bagus lah!”

“Apanya yang bagus! Lo ngeledek gue Yu?”

“Ia bagus lu berdoa ketika sholat.”

“Pada tahun ke-10 kenabian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengalami kesedihan yang amat besar. Paman beliau yaitu Abu Thalib, meninggal dalam keadaan yang belum masuk Islam. Istri Rasulullah, Siti Khadidjah juga meninggal di tahun itu. Embargo dari kaum musyrikin juga sangat parah. Itu semua sangat membuat Nabi sedih. Namun, di tahun itu, Rasulullah SAW dihibur dengan peristiwa yang amat besar, Isra dan Mi’raj. Dalam peristiwa itu, Rasulullah diberi perintah langsung untuk melaksanakan Sholat.”

“Kita ambil hikmahnya. Dalam keadaan senang maupun susah, kita harus sholat. Insya Allah Rul, masalah lo bakal ada jawabannya dari Allah. Gue cuma bisa nyaranin supaya lo sholat malem terus berdoa padaNya.”

“Iya Yu, gue bakal lakuin itu. Makasih ya Yu, lo dah nemenin gue.”

“Sama-sama, moga lo cepet baek.”

Nazrul dan Bayu meninggalkan mushola dan pulang ke kosan masing-masing.

Setelah hari itu, Nazrul tampak jadi pendiam. Ia jarang sekali bicara. Nazrul sedang berusaha membunuh cintanya pada Lili. Namun, semakin ia berusaha melupakan Lili, rasa cinta itu semakin besar dan bergejolak di hatinya.

***

“Rul, kita pulang yuk!” kata Lili dari jendela kelas Nazrul.

“Nggak ah Lil, gue mau sholat dulu. Lo jalan aja ama si Irwan.” Jawab Nazrul.

“Gile lo! Si Irwan kan jauh kampusnya, masa gue harus ke kampusnya dulu! Ya udah, lo sholat dulu, gue tunggu di depan ya! Gue lagi ga sholat nih.”

“Bener ya lo mau nunggu?!”

“Iya.” Jawab Lili.

Mereka berjalan menuju mushola. Lili agak heran dengan kelakuan Nazrul, biasanya kalau Ia berjalan dengan Nazrul, pasti ada canda tawa. Kini Nazrul hanya diam. Beberapa kali Nazrul tak menjawab pertanyaan Lili. Hal ini cukup mengganggunya.

Ketika mereka sampai di mushola, Lili melihat Nazrul yang membuka sepatunya dan siap berwudhu. Ketika Nazrul hendak berwudhu, ia menoleh ke arah Lili. Saat itulah dua pasang mata saling berpandangan. Lili melihat ada sesuatu dibalik mata Nazrul. Sebelumnya Lili sudah sadar apa yang menimpa sobatnya itu. Kini Lili semakin yakin akan kebenarannya.

Setelah sekitar 10 detik berpandangan, mereka tersenyum. Nazrul segera berjalan ke tempat wudhu. Lili berpaling ke arah kantin. Ia berjalan kesana dan duduk merenung memikirkan Nazrul.

Hati yang bimbang membuatmu tak karuan. Ku terdiam melihatnya. Dirimu membuatku terhanyut dalam kasih yang mendalam. Kau pun tersenyum padaku, tetapi hati pilumu membuatku sedih. -Lili dalam diarynya-

Lili menulis sebuah surat untuk Nazrul. Tanpa disadari, air mata Lili pun sedikit mengalir. Goresan tinta biru pada suratnya cukup indah. Lili menyadari mengungkapkan semuanya. Ia terhanyut dalam kata-katanya sendiri. Amplop cokelat muda menutup suratnya itu.

“Lil, gue dah selesai, yuk kita pulang!” Nazrul mengajak.

“Yuk!”

Nazrul dan Lili berjalan keluar kampus. Di depan sekolah itu terdapat jalan raya. Mereka hendak menyebranginya.

Tiba-tiba…

“Nazrul…!! Awas…!!” Lili berteriak sambil mendorong Nazrul hingga terjatuh.

“Drakk…!” suara sepeda motor yang menabrak Lili. Lili terlempar dan terjatuh.

“Aaaaa….!” Orang-orang sekitar berteriak.

“Lili…..!!!!” teriak Nazrul yang spontan mendekati Lili. Nazrul segera mengangkat Lili. Ia menyetop angkot untuk membawa Lili ke rumah sakit. Beberapa mahasiswa ikut naik termasuk Bayu.

“Lil! Dengerin gue!” kata Nazrul sambil memeluk Lili.

“Rul…, maafin gue…!” kata Lili pelan.

“Lil, bertahan Lil!! Gue mau ngomong ama lo!” Nazrul semakin panik.

“Gue dah tau Rul, gue tau apa yang mau lo omongin. Di surat ini, ada jawabannya… Hm..” Lili memberikan amplop cokelat muda itu. Dia langsung tak sadarkan diri.

Setibanya di rumah sakit, Lili segera dibawa ke UGD. Nazrul dilarang masuk. Ia menunggu diluar.

Dengan penuh kekhawatiran, ia berdoa supaya Lili selamat.

“Ya Allah! Jika aku bisa, biarkanlah aku yang celaka. Kenapa mesti dia Ya Allah!”
Dibukanya amplop cokelat muda pemberian Lili. Nazrul segera membacanya.

Dear Nazrul

Rul, selama ini gue nggak tahu perasaan lo ke gue. Namun tatapan mata lo udah ngasih tau gue kalo lo tu cinta ama gue.

Rul…, maafin…, maafin gue! Gue nggak bisa ngebales cinta lo yang begitu besar ke gue. Gue juga sadar betapa sakit hati lo waktu tau gue jadian ama Irwan. Seandainya waktu bisa diputar…, gue ga bakalan nyakitin lo Rul!

Gue nggak bisa nemenin lo waktu lo susah, gue ga bisa dengerin curhatan lo, maafin gue…, maafin gue Rul! Gue nyesel nggak bisa ngebahagiain lo.

Tapi Rul, lo mesti inget, ada yang mencintai lo lebih dari gue. Cinta yang amat besar buat lo! Itulah Cinta Allah. Ingatlah waktu lo lagi susah! Lo aduin semua pada-Nya, lo curhat ama Dia! Lo memohon ama Dia! Sekarang, apa lo masih berpaling ama gue! Sementara Allah, tempat curhat lo malah lo lupain! Betapa sakitnya lo waktu gue nggak ngebales cinta lo. Sekarang gimana Allah nggak marah ke lo sementara Dia mencintai lo, tapi lo malah berpaling ke gue! Lo Cuma deket ama Allah kalo lo butuh doang! Padahal Dia sangat mencintai makhluk-Nya.
Cintailah Allah! Balas cinta-Nya pada lo! Cintai Rasulullah saw! yang mencintai lo sebagai umatnya. Cintai kaum muslimin! Teman seiman kita, teman kita di surga kelak, insya Allah.

Gue juga mau ngasih tau, gue dah putus ama Irwan. Sekarang gue dah inget sama Allah. Sekarang gue jadi muslimah yang baik. Doain supaya gue diampuni Allah! Doain ya Rul!

Kalo memang kita jodoh, ga bakal deh lepas gitu aja. Allah yang ngatur! Maafin gue ya! Jangan lupa doain gue!

Lili

Nazrul menutup surat itu dan segeralah ia beristighfar meminta ampun kepada Allah. Ia menyesali keadaannya. Mengapakah ia lupa akan cinta Allah? Padahal Allah begitu menyayangi dan mengasihinya.

Di tengah penyesalan itu Nazrul meneteskan air mata. Untuk kedua kalinya Bayu mendekati Nazrul yang sedang menangis.

“Yu…” suara Nazrul lirih.

“Ya?” jawab Bayu pelan.

“Gue banyak dosa Yu! Gue nyesel!”

“Dah, sabar. Gue pernah bilang lo bakal dapetin jawaban dari Allah. Ini adalah sebagian kecil dari kuasa-Nya. Lo nggak bakalan nyesel mencintai Allah, cinta lo nggak bakalan bertepuk sebelah tangan. Boleh kita mencintai sesuatu selain Allah, tapi jangan berlebihan! Sebab bisa jadi yang lo cintain itu hilang gitu aja.” Bayu menenangkan Nazrul.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat melewati Nazrul dan Bayu.

“Suster! Gimana keadaan Lili?” tanya Nazrul.

“Dia hanya shock dan luka sedikit, jangan kuatir! Seminggu juga sembuh.” Jawab suster.

“Alhamdulillah.” Ucap Bayu.

Saat itu juga Nazrul mencari tempat bersih lalu ia melakukan sujud syukur.

***

10 bulan kemudian…

“Alhamduillah SKL kita dah keluar”, kata Lili pada Nazrul.

“Lil, gue dah diterima di perusahaan IT besar nih. Gue juga mau coba lanjutin S2”, kata Nazrul

“Waw, selamet deh!” Lili antusias.

“Lil, sebenernya gue mau di semester pertama kuliah S2 gue, lo ada di sisi gue.”

“Maksud lo?!” kata Lili dengan senyuman.

“Mau ga lo jadi istri gue?” tanya Nazrul.

“Mang lu dah siap?” tanya Lili.

“Hm.. Lu tau kan gini-gini gue juga suka nyambi jadi kuli koding. Gue juga dah ngeberesin beberapa projek besar. Alhamdulillah dah ada dana terkumpul.” kata Nazrul.

->ekspresi Lili.

“Gue ga tau Rul…” jawab Lili sambil malu-malu.

“Lu harus yakin Lil… Gue yakin orang tua lu ngizinin” Nazrul antusias.

“Sebenernya sih ia… orang tua gue dah ngasih lampu hijau Rul ” kata Lili.

“Terus?”

“Gua .. hm” Lili spechless.

“So?” Nazrul cemas.

“Emm… Gini aja, tanggal 1 bulan depan lo ajak bapak ibu lo ke rumah gue. Lo pinang gue!” seru Lili.

“Bener Lil? Gue seneng banget!” Nazrul gembira.

Lima bulan kemudian, Nazrul dan Lili menikah. Mereka jadi keluarga muda yang sakinah.

***

Untuk cintaku (siapa yah???)

 

(Cerpen lamaku, dengan sedikit editan untuk versi kampus ^^)

Cintaku Di Pinggir Jalan


Angin berlari mengejar hangat mentari, menggendong debu dan menyapa setiap yang ia temui seperti sentuhan ghaib, ia meraba tubuhku yang lemas ini, ma’lum lah aku baru pulang dari Puskesmas diantar ibu yang dari tadi menasehatiku agar aku menuruti perintah dokter. memang sih kelihatannya cerewet banget, tapi itulah ungkapan rasa sayangnya yang tak pernah minta balas. Kata dokter aku nggak apa-apa, hanya kurang berolah raga, yah minimal lari pagi seminggu sekali, jujur aja bagi aku yang males bangun pagi apalagi hari Minggu, rasanya itu sangat berat.

Setelah aku merasa sehat, aku meminta ibuku agar mengingatkanku tuk lari pagi di hari Minggu, yah… mungkin hanya hari itu aku bisa karena hari lain aku harus kuliah.

***

“Udin… Udin…!” ibuku membangunkanku. Sebenarnya namaku Rafiudin, temanku panggil aku Rafi dan hanya keluargaku yang memanggilku Udin.

“Ya… Apa Bu?” sambil mengucek mata aku bangun dari tidur nyenyakku.

“Udah subuh, sholat sana! Katanya mau lari pagi.” Tanpa kata dan hanya menguap aku langsung pergi sholat.

“Din…! Kok mau tidur lagi? Katanya mau olah raga?!”

“Dingin Bu, siangan aja nanti.” Alasanku sambil membanting diri ke kasur.

“Jangan males-malesan gitu ah! Kalo sakit kamu juga yang rugi.” Ibuku sedikit memaksa.

“Iya… ibuku yang baik.”

Dengan penuh kemalasan aku paksakan juga untuk lari pagi. Tak kusangka ternyata banyakan juga yang lari pagi. Ada yang berpasangan, ada yang bergerombol dan ada juga yang sendiri seperti aku.

Mungkin udah 15 menit aku lari, tiba-tiba aja perempuan yang kebeneran ada di depan kesenggol kakinya.

“Aaau… sakit banget!” jerit dia kesakitan.

“Kenapa? Keseleo?” aku berusaha menolong.

“Udah tau keseleo, ditanya! Bukannya ditolongin!” sedikit jutek ia menjawab.

“Coba duduk di sini, aku urut kakinya!”

“Aduh…” dengan rintihan sakit ia pun duduk di bawah pohon pinggir jalan.

“Boleh aku buka sepatunya?” ia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala.

“Maaf ya…” akhirnya kubuka sepatu dan kaos kakinya. Terlihatlah kakinya yang putih dan mungil.

“Aku urut ya, tahan!”

“Aduh… pelan-pelan dong, sakit nih!”

“Iya, iya, tahan biar cepet sembuh.” Untung sedikit-sedikit aku bisa mengurut. Jujur ketika merintih menahan sakit wajahnya terlihat amat cantik, akupun jadi grogi ditambah tangannya meremas pundakku.

“Aduh…, pelan-pelan dong!”

“Iya bentar lagi, tahan!… Nah, udah kelar deh. Insya Allah sembuh dan dijamin bisa langsung lari.” Aku yang berlaga seperti tukang urut beneran.

“Oh iya udah nggak sakit lagi, terimakasih yah!”
Iapun tersenyum sambil memakai sepatunya lagi. Kini wajahnya lebih cantik. “Kalau aku tahu di pinggir jalan ada bunga secantik ini mungkin udah dari dulu aku lari pagi.” Gumamku.

“Apa kamu bilang?”

“Oh… nggak.” AKu ngeles, untung aja ia nggak denger.

“Sekali lagi makasih yah… Daaah…” ia pergi dengan berlari kecil meninggalkanku yang masih terpaku melihatnya.

“Hai… tunggu! Nama kamu siapa? sambil teriak aku bertanya tapi sedikitpun ia tak menoleh. Mungkin terlalu jauh hingga suaraku tak terdengar.

“Aduh sial! Kenapa gua nggak tanya namanya?!” sambil menyesali diri aku lihat handukku tertukar dengan handuk dia.

“Buju bune handuk gua ketuker, mudah-mudahan ini tanda bahwa aku pasti ketemu dia lagi.”

***

Hari Minggu berikutnya aku semangat bangun pagi. Setelah sholat subuh aku langsung pamit untuk lari pagi. Waktu itu orang tuaku sedikit heran melihat aku yang semangat. Aku berlari sampai pada tempat aku menolong wanita itu. Aku tunggu dia. Tak lama iapun lewat.

“Hai…!” sapaku memanggil.

“Kamu, yang waktu itu nolong aku kan?”

“Iya, ini handuk kamu, kayaknya ketuker deh ama handukkku.” Aku langsung pada inti masalah.

“Oh iya, makasih ya…! Ini handuk kamu, aku dah cuci, habis bauh sih…” dia mengajak bercanda.

Mulai dari situ kita terus bercanda sambil lari berdua. Tak tahu kenapa kami langsung akrab dan seperti sudah lama kenal.

Keenakan lari kami tak sadar bahwa kami telah berada jauh dari rumah. Haripun sudah sedikit siang. Akhirnya kami balik arah pulang jalan kaki sambil cerita-cerita, menambah kedekatan.

Waktu itu hatiku berbunga-bunga ditambah ketika tak sengaja aku pegang tangannya, diapun tak menolak. Akhirnya kami jalan sambil pegangan tangan.
Tibalah kami di persimpangan jalan. Aku harus berpisah dengannya.

“Oh iya, kayaknya kita berpisah di sini.: katanya sambil menghentikan langkah kami.

“Oh iya, kapan-kapan kita lari bareng lagi yah!”

“Kapan-kapan.” Jawabnya singkat.

Aku tak tahu dorongan setan mana yang membuatku meraih kedua tangannya dan menatapnya tajam. Getaran hatipun terasa, detak nadi mengencang. Aliran darah pun terasa cepat. Aku tambah bergetar ketika ia menutup mata seolah memberi kesempatanku untuk menciumnya. Dengan detak jantung yang mengencang akupun menutup mataku untuk menciumnya. Aku tak menyangka bahwa aku akan berciuman dengan gadis cantik berkulit putih dan rambut panjang yang diikat.
Semakin dekat bibirku dengan bibirnya dan…..

“Udin…! Udin…!” suara itu terdengar seperti suara ibuku.

“Udah subuh! Bangun!” aku pun terperanjat kaget oleh suara Ibuku.

“Hah… hanya mimpi.” Sesaat aku menyayangkan semua ini. Akupun sholat subuh.

“Oh iya Din, gimana udah baikan?” sapa sayang ibuku.

“Alhamdulillah,” jawabku dengan senyuman.

“Din…, katanya kamu mau olah raga? Kan kata dokter kamu itu kurang olah raga.:

“Emangnya hari ini hari apa Bu?” tanyaku.

“Hari Minggu” jelsa ibuku.

“Hari Minggu… asik…! Udin mau lari pagi Bu!” dengan semangat dan bayang wajah perempuan yang belum sepat kutanya namanya membuat aku lupa bahwa aku baru sembuh.

“Din… ini pake handuk ini!”

“Hah…? Handuk ini kan punya wanita itu!”

 

(Diterbitkan di Majalah Sekolah Anda Edisi 2Tahun VI, SMAN 1 Leuwiliang. Editor: Arief Hidayatulloh, Pengarang: –tidak terdokumentasi–)

Sam si Programmer (Part 1)


Di sebuah kabupaten, tinggallah seseorang yang bernama Sam. Ia adalah seorang mahasiswa dan juga freelance jadi programmer (kuli koding), kerjaannya ngoding dan ngoding. Ia sering telat minum dan makan, bukannya lupa, tapi menunda. Ketika  ia lapar dan kebetulan ada koding yang belum beres, ia akan berkata, “tanggung ah, bentar lagi”, begitu terus dan akhirnya telat makan. Sam telah terbiasa tidur jam 2 malam, bangun jam 4 pagi. Makan paginya sering jam 12 siang, atau bahkan jam 4 sore. Makan siangnya jam 11 malam. Kesehariannya sangat asik dipenuhi oleh koding.

Sehari dua hari tidak apa-apa, namun setelah berhari-hari akhirnya ia down… Suatu hari ia bangun dengan keadaan perut sakit. Sakitnya tak bisa ditahan, sampai-sampai tak bisa bergerak. Ia paksakan untuk kuliah. Siangnya ia pulang ke kosan dan ketiduran. Menjelang kuliah berikutnya, ketika terbangun Sam merasa ada yang aneh, dan ia merasa demam tinggi. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri untuk kuliah.

Sorenya sepulang kuliah, ia terpaksa pulang karena sudah tidak tahan dengan demam dan sakit perutnya. Di rumah, ia diantar kedua orang tuanya berobat. Pengobatan pertama di klinik terdekat, dokter memeriksa dan terlihat ada bintik-bintik merah di tubuhnya. Dokter menganjurkan agar Sam segera cek darah dan diperiksa di RSUD. Berangkatlah Sam dan kedua orang tuanya ke RSUD.

Di RSUD, Sam dicek darah dan hasilnya darahnya normal, jumlah trombositnya juga. Namun itu belum cukup, doker mengatakan, Sam langsung mengalami demam tinggi, ada kemungkinan ia mengalami demam berdarah, maka Sam harus dicek lagi dalam 3 hari.

Setelah hari itu keadaan Sam semakin buruk, ia sering mengalami sakit perut dan demam tinggi. Meski begitu ia tak bisa tenang lagi. Pekerjaannya sebagai programmer memaksanya untuk tetap bekerja meskipun ia sedang sakit. Ia tetap bekerja keras, tapi sekarang ia lebih memperhatikan konsumsi makanannya, ia lebih teratur makan.

Hari ketiga, keadaan Sam semakin memburuk, ia kembali ke RSUD dan dicek darah. Trombositnya kini hanya tinggal 100ribu. Ia dinyatakan positif terkena demam berdarah. Sam mulai dirawat di RSUD. Ia tak bisa membuka laptopnya lagi, ia lemas, suhu badannya sangat tinggi. Teman-teman Sam pun menjenguknya, sangat menghibur bagi Sam.

Meski sudah dijenguk oleh teman-temannya, Sam masih merasa kurang, ia belum dijenguk oleh orang yang sangat dikasihinya. Cahaya, merupakan mantan kekasih Sam yang sampai saat ini masih sangat dicintai Sam. Mereka putus karena suatu keadaan, namun masih tetap berhubungan baik sampai saat ini. Sam sangat merindukannya, apalagi ia sering ingat dulu waktu ia sakit Cahayalah yang merawatnya, memberikan kasih sayang yang tulus baginya.

Hari keenam, trombosit Sam hanya 20ribu, sudah sangat berbahaya. Sam sering tak sadarkan diri, tentu saja keluarganya sangat cemas. Hari ini Cahaya datang untuk menjenguk Sam. Sam sedang tidur ketika Cahaya datang. Cahaya duduk disamping Sam.

“Sam, ini aku… Cahaya”, bisik Cahaya, ia menangis.

“Sam, maafkan aku… Aku mohon kamu segera sembuh ya Sam… Aku khawatir… Aku cinta kamu Sam”.

Bersambung ke

Seorang Teman


Dia itu orang baik, dia pengertian, dia enak diajak bicara, dia juga selalu memandang hal dari berbagai sisi sehingga tidak mudah menjudge seseorang itu benar atau salah. Dia agak koleris dan agak mudah berubah mood, tapi menurutku tetap menarik. Menurutku mang dia koleris, memiliki kemampuan tuk memerintah, memiliki ketegasan dalam pendapatnya, bahkan sering kali sedikit ngotot sehingga aku harus menerima apa yang dia katakan. Meski mengalah, tak ada benciku padanya, yang ada adalah ketulusan tuk menjalankan kata-katanya. Aku semakin nurut padanya.

Aku tidak terlalu paham perasaan ini, yang aku tahu aku menyayanginya dan semakin menyayanginya. Apapun yang dia minta sebisa mungkin aku berikan. Meskipun aku begitu menyayanginya, tak ada niat ingin memiliki, yang ada hanya ingin berbagi, karena sayangku tulus untuknya. Baca pos ini lebih lanjut

Teruntuk Mawar Putihku (Isteri Tercintaku)


Aku menjadi sangat bersyukur saat meminangnya dan mengucapkan kalimat pengikat hati. Aku menjadi seorang suami yang beristrikan wanita sholehah seperti Aisyahnya Nabi, cantik, cerdas. Ditambah lagi dia bisa menjaga kesetiaan cinta kami dan menjaga dirinya di saat aku tak berada di sampingnya untuk waktu yang tidak sebentar. Saat pekerjaan mengharuskanku pergi meninggalkannya jauh dari rumah kecil yang kami tinggali.

Saat-saat bahagia itu terus tumbuh seperti bunga mawar putih kesukaanya, indah, semerbak dan enak dilihat hati kami. Memberikannya hadiah bulan madu di tanah suci seperti janji kami dulu saat berpacaran. Aku sangat menyayanginya seperti Rasulullah menyayangi Aisyah, memanjakannya dan menjadi sandaran ketika dia menangis. Tak jarang kami dikatakan pasangan serasi oleh mata yang memandang, wajah kami nyaris mirip begitu kata-kata mereka yang aku ingat. Bahkan teman-teman kulahku dulu menyangsikan keromantisanku, meski aku pernah memiliki mantan, tapi perlakuanku tak sama seperti aku memanjakan istriku.

*****

LIMA TAHUN PUN BERLALU

Keharmonisan rumah tangga kami menjadi momok tersendiri di kalangan keluargaku, kehadiran seorang anak selalu dinantikan mama dan papa. Buatku hadiah terindah dari sebuah pernikahan tidak hanya seorang anak, tapi cinta kasih dan ketenangan yang paling penting. Anak itu titipan dari Allah, mungkin saja Allah belum percaya dengan kami atau kami sedang diuji kesabarannya dan bisa jadi Allah senang melihat kasih sayang kami yang tak pernah putus.

Aku tak pernah tahu pandangan sinis mama dan Dian, adik semata wayangku itu ditujukan untuk istriku, kupikir hanya suudzon belaka yang kadang ku sepelekan begitu saja. Memikirkan hal yang positif akan membuat hidup jadi bermanfaat dan tak ada lagi keresahan dengan sikap orang lain terhadapku. Fisya, istriku, selalu tersenyum dan tak kulihat sinar kesedihan yang mengelayuti wajah ayu nya. Dia selalu menjadi penawar hidup di kala susah, pengobat rindu di kala ingin bertemu dan menjadi sandaran jiwa ketika lelah dan tak bertenaga.

Baca pos ini lebih lanjut

Sebuah Senyuman


“Aku ingin kita putus! Dan mulai hari ini kita nggak ada hubungan apa-apa!” tajamnya kata-kata Febria memutuskan hubungan yang sudah berjalan tujuh bulan bersama Endri.

Dengan panasnya terik sang mentari menyengat, Enri hanya terdiam melihat Febria yang pergi meninggalkannya setelah melontarkan kata putus. Setelah beberapa saat Endri melangkahkan kakinya pelan, seperti ada yang dia pikirkan.

Bukan putusnya hubungan dengan Febria yang ia pikirkan. Ia menganggap memang hubungan dirinya dan Febria sudah tak sehat dan putus mungkin jalan keluarnya. Ternyata dia sedang merenungi dirinya sendiri. Karena putusnya hubungan ini adalah yang kelima kalinya. Ia merenungi selama ia berhubungan hanya gitu-gitu aja seperti yang lain. Membosankan.

Baca pos ini lebih lanjut