Cintaku Di Pinggir Jalan


Angin berlari mengejar hangat mentari, menggendong debu dan menyapa setiap yang ia temui seperti sentuhan ghaib, ia meraba tubuhku yang lemas ini, ma’lum lah aku baru pulang dari Puskesmas diantar ibu yang dari tadi menasehatiku agar aku menuruti perintah dokter. memang sih kelihatannya cerewet banget, tapi itulah ungkapan rasa sayangnya yang tak pernah minta balas. Kata dokter aku nggak apa-apa, hanya kurang berolah raga, yah minimal lari pagi seminggu sekali, jujur aja bagi aku yang males bangun pagi apalagi hari Minggu, rasanya itu sangat berat.

Setelah aku merasa sehat, aku meminta ibuku agar mengingatkanku tuk lari pagi di hari Minggu, yah… mungkin hanya hari itu aku bisa karena hari lain aku harus kuliah.

***

“Udin… Udin…!” ibuku membangunkanku. Sebenarnya namaku Rafiudin, temanku panggil aku Rafi dan hanya keluargaku yang memanggilku Udin.

“Ya… Apa Bu?” sambil mengucek mata aku bangun dari tidur nyenyakku.

“Udah subuh, sholat sana! Katanya mau lari pagi.” Tanpa kata dan hanya menguap aku langsung pergi sholat.

“Din…! Kok mau tidur lagi? Katanya mau olah raga?!”

“Dingin Bu, siangan aja nanti.” Alasanku sambil membanting diri ke kasur.

“Jangan males-malesan gitu ah! Kalo sakit kamu juga yang rugi.” Ibuku sedikit memaksa.

“Iya… ibuku yang baik.”

Dengan penuh kemalasan aku paksakan juga untuk lari pagi. Tak kusangka ternyata banyakan juga yang lari pagi. Ada yang berpasangan, ada yang bergerombol dan ada juga yang sendiri seperti aku.

Mungkin udah 15 menit aku lari, tiba-tiba aja perempuan yang kebeneran ada di depan kesenggol kakinya.

“Aaau… sakit banget!” jerit dia kesakitan.

“Kenapa? Keseleo?” aku berusaha menolong.

“Udah tau keseleo, ditanya! Bukannya ditolongin!” sedikit jutek ia menjawab.

“Coba duduk di sini, aku urut kakinya!”

“Aduh…” dengan rintihan sakit ia pun duduk di bawah pohon pinggir jalan.

“Boleh aku buka sepatunya?” ia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala.

“Maaf ya…” akhirnya kubuka sepatu dan kaos kakinya. Terlihatlah kakinya yang putih dan mungil.

“Aku urut ya, tahan!”

“Aduh… pelan-pelan dong, sakit nih!”

“Iya, iya, tahan biar cepet sembuh.” Untung sedikit-sedikit aku bisa mengurut. Jujur ketika merintih menahan sakit wajahnya terlihat amat cantik, akupun jadi grogi ditambah tangannya meremas pundakku.

“Aduh…, pelan-pelan dong!”

“Iya bentar lagi, tahan!… Nah, udah kelar deh. Insya Allah sembuh dan dijamin bisa langsung lari.” Aku yang berlaga seperti tukang urut beneran.

“Oh iya udah nggak sakit lagi, terimakasih yah!”
Iapun tersenyum sambil memakai sepatunya lagi. Kini wajahnya lebih cantik. “Kalau aku tahu di pinggir jalan ada bunga secantik ini mungkin udah dari dulu aku lari pagi.” Gumamku.

“Apa kamu bilang?”

“Oh… nggak.” AKu ngeles, untung aja ia nggak denger.

“Sekali lagi makasih yah… Daaah…” ia pergi dengan berlari kecil meninggalkanku yang masih terpaku melihatnya.

“Hai… tunggu! Nama kamu siapa? sambil teriak aku bertanya tapi sedikitpun ia tak menoleh. Mungkin terlalu jauh hingga suaraku tak terdengar.

“Aduh sial! Kenapa gua nggak tanya namanya?!” sambil menyesali diri aku lihat handukku tertukar dengan handuk dia.

“Buju bune handuk gua ketuker, mudah-mudahan ini tanda bahwa aku pasti ketemu dia lagi.”

***

Hari Minggu berikutnya aku semangat bangun pagi. Setelah sholat subuh aku langsung pamit untuk lari pagi. Waktu itu orang tuaku sedikit heran melihat aku yang semangat. Aku berlari sampai pada tempat aku menolong wanita itu. Aku tunggu dia. Tak lama iapun lewat.

“Hai…!” sapaku memanggil.

“Kamu, yang waktu itu nolong aku kan?”

“Iya, ini handuk kamu, kayaknya ketuker deh ama handukkku.” Aku langsung pada inti masalah.

“Oh iya, makasih ya…! Ini handuk kamu, aku dah cuci, habis bauh sih…” dia mengajak bercanda.

Mulai dari situ kita terus bercanda sambil lari berdua. Tak tahu kenapa kami langsung akrab dan seperti sudah lama kenal.

Keenakan lari kami tak sadar bahwa kami telah berada jauh dari rumah. Haripun sudah sedikit siang. Akhirnya kami balik arah pulang jalan kaki sambil cerita-cerita, menambah kedekatan.

Waktu itu hatiku berbunga-bunga ditambah ketika tak sengaja aku pegang tangannya, diapun tak menolak. Akhirnya kami jalan sambil pegangan tangan.
Tibalah kami di persimpangan jalan. Aku harus berpisah dengannya.

“Oh iya, kayaknya kita berpisah di sini.: katanya sambil menghentikan langkah kami.

“Oh iya, kapan-kapan kita lari bareng lagi yah!”

“Kapan-kapan.” Jawabnya singkat.

Aku tak tahu dorongan setan mana yang membuatku meraih kedua tangannya dan menatapnya tajam. Getaran hatipun terasa, detak nadi mengencang. Aliran darah pun terasa cepat. Aku tambah bergetar ketika ia menutup mata seolah memberi kesempatanku untuk menciumnya. Dengan detak jantung yang mengencang akupun menutup mataku untuk menciumnya. Aku tak menyangka bahwa aku akan berciuman dengan gadis cantik berkulit putih dan rambut panjang yang diikat.
Semakin dekat bibirku dengan bibirnya dan…..

“Udin…! Udin…!” suara itu terdengar seperti suara ibuku.

“Udah subuh! Bangun!” aku pun terperanjat kaget oleh suara Ibuku.

“Hah… hanya mimpi.” Sesaat aku menyayangkan semua ini. Akupun sholat subuh.

“Oh iya Din, gimana udah baikan?” sapa sayang ibuku.

“Alhamdulillah,” jawabku dengan senyuman.

“Din…, katanya kamu mau olah raga? Kan kata dokter kamu itu kurang olah raga.:

“Emangnya hari ini hari apa Bu?” tanyaku.

“Hari Minggu” jelsa ibuku.

“Hari Minggu… asik…! Udin mau lari pagi Bu!” dengan semangat dan bayang wajah perempuan yang belum sepat kutanya namanya membuat aku lupa bahwa aku baru sembuh.

“Din… ini pake handuk ini!”

“Hah…? Handuk ini kan punya wanita itu!”

 

(Diterbitkan di Majalah Sekolah Anda Edisi 2Tahun VI, SMAN 1 Leuwiliang. Editor: Arief Hidayatulloh, Pengarang: –tidak terdokumentasi–)

Perihal arief
Seorang Ilkomerz 45 IPB.... Seorang yang memiliki mimpi yang besar.... untuk membahagiakan keluarga, sahabat, dan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: