Seorang Teman


Dia itu orang baik, dia pengertian, dia enak diajak bicara, dia juga selalu memandang hal dari berbagai sisi sehingga tidak mudah menjudge seseorang itu benar atau salah. Dia agak koleris dan agak mudah berubah mood, tapi menurutku tetap menarik. Menurutku mang dia koleris, memiliki kemampuan tuk memerintah, memiliki ketegasan dalam pendapatnya, bahkan sering kali sedikit ngotot sehingga aku harus menerima apa yang dia katakan. Meski mengalah, tak ada benciku padanya, yang ada adalah ketulusan tuk menjalankan kata-katanya. Aku semakin nurut padanya.

Aku tidak terlalu paham perasaan ini, yang aku tahu aku menyayanginya dan semakin menyayanginya. Apapun yang dia minta sebisa mungkin aku berikan. Meskipun aku begitu menyayanginya, tak ada niat ingin memiliki, yang ada hanya ingin berbagi, karena sayangku tulus untuknya.

Bicara mengenai perasaan, yang kutahu dia memiliki pujaan hati, bukan diriku tentunya. Yang kutahu mereka berpisah dan tampak lebih jauh sekarang. Aku sering mengamatinya dan aku rasa dia masih menyimpan rasa yang besar kepada sang pujaan hatinya. Rindu yang terpendam, rasa cinta yang tak bisa dituangkan karena keadaan. Kisah cinta yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti itu, aku yakin mereka dapat saling mencinta meski keadaan memaksa lain.

Kawan, engkau tahu kan rasa rindu yang mendalam? ketika aku mulai beranjak dewasa, aku pernah merasakannya. Rasa yang cukup nyaman jika melihatnya, jika bertemu dengannya, jika membayangkan dirinya. Rasa itu juga menyiksa jika lama tak jumpa dengannya, tak tahu kabarnya, atau jika tahu bahwa tak ada balasan darinya.

Apa rasa itu salah? tidak kawan! Rasa itu adalah fitrah dan akan selalu ada bagi manusia. Kita hanya perlu mengelolanya sampai tiba saatnya jika sudah siap lahir batin.

Kembali ke si dia, aku merasakan sedihnya dirinya ketika tidak dapat lagi bebas berhubungan dengan pujaan hatinya. Jika aku jadi dia, mungkin aku akan sering menangis karena perasaan itu, sebenarnya aku ini melankolis. Aku ingin sekali membantunya, namun tak tahu caranya. Aku hanya bisa menjadi teman yang siap membantunya kapanpun dia butuhkan. Aku hanya berdoa, jika pujaan hatinya adalah jodohnya, semoga cepat didekatkan dan jika bukan jodohnya, semoga perasaan itu hilang dari hatinya agar dia tidak lagi tersiksa karenanya.

Ini ide cerpen untuk Anna Oktaviana..

Perihal arief
Seorang Ilkomerz 45 IPB.... Seorang yang memiliki mimpi yang besar.... untuk membahagiakan keluarga, sahabat, dan...

4 Responses to Seorang Teman

  1. abrari mengatakan:

    Semoga Allah mempertemukan keduanya, dan memberikan yang lebih baik untuk saya. Eaaa…

  2. pararang mengatakan:

    asekkk… inspiratif kang arip

  3. arief mengatakan:

    Thank You… hehe

  4. anna mengatakan:

    kayaknya gw tau siapa yg dimaksud dah… ckckck…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: