Teruntuk Mawar Putihku (Isteri Tercintaku)


Aku menjadi sangat bersyukur saat meminangnya dan mengucapkan kalimat pengikat hati. Aku menjadi seorang suami yang beristrikan wanita sholehah seperti Aisyahnya Nabi, cantik, cerdas. Ditambah lagi dia bisa menjaga kesetiaan cinta kami dan menjaga dirinya di saat aku tak berada di sampingnya untuk waktu yang tidak sebentar. Saat pekerjaan mengharuskanku pergi meninggalkannya jauh dari rumah kecil yang kami tinggali.

Saat-saat bahagia itu terus tumbuh seperti bunga mawar putih kesukaanya, indah, semerbak dan enak dilihat hati kami. Memberikannya hadiah bulan madu di tanah suci seperti janji kami dulu saat berpacaran. Aku sangat menyayanginya seperti Rasulullah menyayangi Aisyah, memanjakannya dan menjadi sandaran ketika dia menangis. Tak jarang kami dikatakan pasangan serasi oleh mata yang memandang, wajah kami nyaris mirip begitu kata-kata mereka yang aku ingat. Bahkan teman-teman kulahku dulu menyangsikan keromantisanku, meski aku pernah memiliki mantan, tapi perlakuanku tak sama seperti aku memanjakan istriku.

*****

LIMA TAHUN PUN BERLALU

Keharmonisan rumah tangga kami menjadi momok tersendiri di kalangan keluargaku, kehadiran seorang anak selalu dinantikan mama dan papa. Buatku hadiah terindah dari sebuah pernikahan tidak hanya seorang anak, tapi cinta kasih dan ketenangan yang paling penting. Anak itu titipan dari Allah, mungkin saja Allah belum percaya dengan kami atau kami sedang diuji kesabarannya dan bisa jadi Allah senang melihat kasih sayang kami yang tak pernah putus.

Aku tak pernah tahu pandangan sinis mama dan Dian, adik semata wayangku itu ditujukan untuk istriku, kupikir hanya suudzon belaka yang kadang ku sepelekan begitu saja. Memikirkan hal yang positif akan membuat hidup jadi bermanfaat dan tak ada lagi keresahan dengan sikap orang lain terhadapku. Fisya, istriku, selalu tersenyum dan tak kulihat sinar kesedihan yang mengelayuti wajah ayu nya. Dia selalu menjadi penawar hidup di kala susah, pengobat rindu di kala ingin bertemu dan menjadi sandaran jiwa ketika lelah dan tak bertenaga.

Desi, mantan pacarku yang agresif, selalu mencari-cariku ke rumah orangtuaku sampai-sampai mama begitu memperhatikannya daripada Fisya. Mama tak pernah mau mengajaka Fisya jalan untuk berbelanja, betah lama-lama berdekatan dengan istriku, dan baru kutahu Fisya tak diizinkan merawat lukaku saat kecelakaan mobil yang kualamu waktu itu. Dia diusir Dian dari kamar perawatanku, sayup-sayup kudengar Dian membentak Fisya, namun aku tak mampu berbuat banyak, aku kehilangn darah dan kesdaranku semakin menurun.

******

Selama aku dirawat mama mencekoki bertita-berita yang pada awalnya tak kupercaya, strike berselingkuh dengan mantan pacarnya. Mau menentangnya tapi tak mungkin karena sosoknya tak lagi hadir selama aku terbaring lemah di kasur perawatan.

“Fisya tak peduli dengan sakitmu, jangankan peduli dia sedang asik jalan-jalan sama mantan pacarnya dulu dan mungkin mereka sedang cek-in di sebuah hotel.” Celetuk Dian menambahi cerita dari mama.

“Wong Mama tak sengaja pernah baca sms istrimu itu kok, dia diajak “begituan” sama mantan pacarnya itu,” tambah Mama membakar emosiku.

Ingin rasanya aku mendatangimu dan menanyakan hal itu padamu, ingin rasanya mengambil hp mu dan megecek langsung kebenarannya. Tapi aku tak mau ribut, kepalaku sudah pusing dibuatnya, dokter pun menyarankan Mama dan keluarga untuk merawatku dan menjauhkaku dari masalah. Menurut mereka masalah terbesarku adalah kamu, Fisya.

Aku benci dengan berita yang kudengar bahkan lebih benci lagi saat kutahu dari orang lain bukan dari mulut Fisya. Malam itu aku datang ke rumah mengambil barang-barangku secukupnya, kulihat kau sedang tidur nyenyak di sana, tak ingin kubangunkan dirimu apalagi harus memarahimu. Tak kuat mata ini melihat wajahmu yang begitu polos kemudian harus mengingat kebencian padamu yang ditumbuhkan Mama padaku. Kau berzina, kau melupakan janji serta komitmen yang kita bangun dari nol. Istana kecil yang kita tempati bersama atas nama cinta dan kepercayaan.

******

DUA TAHUN KEMUDIAN

Hari-hariku dipenuhi Desi, kemana pu aku pergi hanya ada Desi yang menemani. Tak ada sms darimu satu pun, tak ada miscalled yang dulu sering kau lakukan untukku untuk mengingatkanku semangat bekerja, mengingatkanku makan siang, solat dzuhur dan hati-hati dijalan. Kemana dirimu pergi? Benarkah berita miring tentangmu? Apa kau benar menikahiku karena aku anak orang kaya?

Mama semakin menyayangi Desi, keluargaku tak luput dari obrolan seputarnya, bahkan Papa sudah meminta keluarganya datang malam ini untuk membicarakan pesta pernikahanku. Aku diminta untuk tegas memilih, memilih kamu atau Desi. Jika aku memilih kamu, maka Desi tetap aku nikahi berarti kamu harus menerima aku madu. Sementara jika aku memilih Desi, aku harus mentalakmu dan aku tetap menikahinya.

Kaupun datang ke acara diskusi keluarga mala mini, tubuhmu semakin mengurus, pipi tembemmu dulu sudah tak ad lagi di sana, yang ada tulang pipimu yang makin tampak dan kemana daging dalam tubuhmu? Apa kau tak makan sayang? Apa lelaki itu membencimu dan menyakitimu? Ingin sekali rasanya aku menegurmu, tapi rapat keluarga begitu tegang, hingga aku tak tahu harus berbuat apa untuk membuat senyum terukir dari wajah sendumu.

Kau memegang tanganku erat, tanganmu sedingin tatapanmu menjawab pertanyaan dari Nenek, terasa getirnya suaramu menyesakkan dada ini. Aku yakin tatapanmu tadi meminta persetujuanku dulu dan mengajakku berbincang dari bathi yang terluka. Aku juga sakit Bunda, sakit rasanya melihatmu tak peduli lagi dengan pernikahan kita. Aku mengharapkan jawaban tidak dari mulutmu, kumenunggu kata-kata cemburu dari bibirmu dan mengatakan kebenaran isi hatimu kepada keluargaku bukan untuk disembunyikan sendiri.

Hancur batinku mendengar kata-katamu ‘’Untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami”. Semudah itukah kau mengatakan hal itu untuk menyayat-nyayat hatiku? Dimana cintamu selama ini padaku? Dimana cemburumu untukku? Dimana? Takkah kau lihat diudut mataku ada bulir-bulir hangat yang terbendung siap jatuh dalam hitungan detik.

Seolah kau tak memperhatikanku lagi, tak ada tatapan mesra dari mata indahmu. Kau tak memperhatikan perubahan raut wajah ini. Aku membencimu melebihi kebencianku saat mendengar berita yang tak kupercaya. Kulepaskan genggamanmu, jawaban sinis atas pertanyaan-pertanyaanmu menjadi andalanku untuk membuatmu tahu hatiku terluka. Hatimu tak sesenstif dulu saat aku menggodamu, ditambah lagi kau akan mengurus segala tetek bengek pernikahanku dengannya. Maumu apa sebenarnya? Tak ingin diceraikan tapi tak cemburu.

Kukejar kau ke kamar tidur, namun yang kutemui kamu sibuk dengan laptop barumu, urung niatku untuk memanggilmu dan bercengkrama seperti awal pernikah kita. Aku terdiam di teras samping, melihat kolam dengan ikan yang lalu lalang tanpa tahu mau kemana mereka sebenarnya, menenangkan diri mendengar suara gemericik air yang jatuh seperti air terjun dan aku mengharapkan sebuah keajaiban Allah untuk keluarga kecilku.

Penasaran juga rasanya apa yang kau lakukan dengan laptopmu tadi, sepertinya sudah nyenyak dengan alam mimpimu hingga kau tak dengar suara pintu yang kukunci dan suara kursi berdecit. Awalnya, tak ada niatku membongkar apa yang ada di dalam laptopmu tapi semakin kutertegun memandangnya semakin besar keinginan untuk membukanya dan di sana kutemukan sebuah tulisan yang kau simpan untukku. Bernama “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?

Aku dihina oleh mereka ayah. Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnyakarena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah.

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawatmu suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.

Aku sangat marah.

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya.

Aku tak mau sakit hati lagi..

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku.

Engkau Maha Adil..

Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah.

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu. Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui, tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri. Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu..

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. aku masih tak rela..

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.

” Ayah.. aku kangen Ayah..”

Kukecup keningmu dengan pipi yang basah, tak kuasa menahan tangis yang begitu membuncah dan tersungkur di hadapanmu untuk pertama kalinya aku menyesali apa yang pernah kulakukan dalam hidupku. Aku berdosa padaMu ya Rabb, aku menelantarkan istriku. Bertahun-tahun dia menyayangiku dalam keadaan apa pun masih setia menyayangiku, dia rela menyimpan rapat-rapat kebencian keluargaku padanya.

Tak pernah dia membalas kebencian Mama dan Dian dengan kebencian juga, tak penah dia menyuruhku untuk durhaka pada Mama, tak pernah dia memintaku untuk lebih mempercayainya daripada Mama bahkan dia tak pernah membantah semua yang keluargaku minta padanya.

Kini dia terbaring lemah di depanku sedang kanker menggrogoti tubuhnya dengan leluasa, aku tak ada di sampingnya selama ini. Menceritakannya saja dia tak mau, dia tak mau aku kasihani karena yang dia butuhkan kasih sayangku yang tulus dan melihatnya dengan penuh cinta bukan dengan iba.

Perempuan tegar ini sudah sepantasnya menjadi istri yang berbahagia bukan disakiti dan dibiarkan bertahun-tahun dalam kesendirian dan keputusasaan. Berjuang sendiri dalm kondisi sakitnya yang seharusnya kau bersamanya, merawatnya, menjaganya dan menguatkannya. Tapi apa yang aku lakukan selama ini ya Rabb?

Aku menuduhnya berzina, tak peduli dengan cintaku, kasih sayangku, perhatianku, istana kecilku dan memadunya dengan wanita lain. Bahkan akulah ynag membuatnya sengsara seperti ini, akulah orang yang seharusnya paling dia benci. Ya Rabb, aku mohon berilah hamba kekuatan untuk merubah semua keadaan ini. Aku ingin menjadi suami yang baik selagi dia masih bisa bernafas, aku ingin menjadi suami yang menyayangi di sisa hidupnya, aku ingin dia mengetahui aku menyayanginya sepenuh jiwa dan aku menyesali sangat menyesali ini semua.

Berilah hamba kesempatan untuk mengecup keningnya di hari esok, dimana hanya akan ada dia di dalam hati dan pandanganku meski aku harus menikahi Desi. Aku ingin merengkuhnya dalam hingga tak ada lagi kesedihan dari sorot matanya, menggenggam erat tangannya menandakan keberadaanku di sampingnya dan membalas cintanya selama ini.

***

Hari pernikahan telah tiba, orang pertama yang kutemui tentu saja Fisya, istri tercinta, belahan jiwa dan separuh nafasku. Pernikahan palsu karena harga diri keluarga yang kupertaruhkan jikalau saja aku membatalkannya sepihak. Kulihat matanya berkaca-kaca, menahan sesuatu agatr tak tumpah ruah dan mengajakku berbicang kecil

“Apakah kamu sudah siap?” pakaian pengantiku digamit olehnya, merapikannya dan memastikan aku terlihat tampan hari itu.

Kuseka airmata yang menetes diwajah mungilnya, dibalik kalimatnya yang terpotong karena cemburu yang tampak dari sinar matanya.

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu.. ”,

Kudengarkan ucapannya tertatih dan rasa penasaran yang berulang membuatku bertanya kalimat yang terputus itu.

“Lalu apa Bunda?”

Sepertinya dia kaget mendengar kalimat yang terlontar dariku, yang tadinya dia menunduk seketika langsung menatap dengan mata yang berbinar-binar. Ada cahaya yang sempat hilang ada di sana. Aku melihatnya jelas.

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan tadi?” Pintamu tuk menyakini bahwa kupingmu tidak salah mendengar.

”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?” Ku usap wajah dan menghapus airmatamu, dengan sedikit membungkuk pastinya karena tinggimu hanya sampai se-dadaku.

Senyumku mengembang sambil kukatakan ”Kita lihat saja nanti ya!” Kupeluk tubuhmu seperti janjiku semalam, kalimat lainnya terucap atas nama kebahagiaan yang memuncak dariku “Bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama.”

Kukecup keningmu dan kau memelukku sebagai balasan kecupan mesra jatuh dikeningmu, eratnya dan jatuh sudah air matamu di baju pengantinku, curahan hatimu keluar dari bibir yang selama ini bungkam “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu, waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Kau bersujud di kakiku dan muncium kakiku.

Aku tersentak, sesak rasanya menahan tangis ini sejak melihat air matamu jatuh, bahkan kau yang meminta maaf padaku, bangga rasanya memiliki istri yang mau menegur suaminya lewat pelajaran kehidupan seperti ini, dan aku tak malu menangis bersamamu dan merasakan hangatnya tubuhmu dalam pelukanku.

Tiba-tiba kau memegang perutmu kelihatan betul sakit yang kau rasakan, dan ada yang tak beres darimu, kanker itu sudah bereaksi rupanya.

”Bunda baik-baik saja kan?” tanyaku penuh khawatir.

Kau menjawab penuh senyum yang membekas lara di sana “Bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang.”

Dia begitu pasti karena teringat penikahanku yang sebentar lagi berlangsung. Lagi-lagi dia tak ingin membebani pikiranku dengan hal-hal mengenai dirinya.

(bersambung)

dari http://www.facebook.com/sabil.ananda

blognya http://sabilananda.blogspot.com/

Perihal arief
Seorang Ilkomerz 45 IPB.... Seorang yang memiliki mimpi yang besar.... untuk membahagiakan keluarga, sahabat, dan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: