Sebuah Senyuman


“Aku ingin kita putus! Dan mulai hari ini kita nggak ada hubungan apa-apa!” tajamnya kata-kata Febria memutuskan hubungan yang sudah berjalan tujuh bulan bersama Endri.

Dengan panasnya terik sang mentari menyengat, Enri hanya terdiam melihat Febria yang pergi meninggalkannya setelah melontarkan kata putus. Setelah beberapa saat Endri melangkahkan kakinya pelan, seperti ada yang dia pikirkan.

Bukan putusnya hubungan dengan Febria yang ia pikirkan. Ia menganggap memang hubungan dirinya dan Febria sudah tak sehat dan putus mungkin jalan keluarnya. Ternyata dia sedang merenungi dirinya sendiri. Karena putusnya hubungan ini adalah yang kelima kalinya. Ia merenungi selama ia berhubungan hanya gitu-gitu aja seperti yang lain. Membosankan.

“Hei! Jalan sambil ngelamun!” kaget Zodi, teman dekat Endri.

“Sialan Lo Zod! Ngagetin gue aja.” Sambil terperanjat Endri menjawab tegur Zodi.

“Kenapa lo murung banget? Kaya kucing kehilangan ekornya aja.”

“Gue baru putus dari Febria.”

“Putus! Sumpe lo?!” tanya Zodi ngerasa heran.

“Iya, gue rasa gue dan dia udah nggak cocok lagi, kita sering berantem dan… ah gitu lah.”

“Ya udah…, jangan dipikirin! Inget pepatah, hilang satu tumbuh seribu. Putus satu cari lagi. Tenang, stok cewek di dunia ini masih banyak. Di skul kita aja cewenya macan semua. Yah kalo elo tinggal puluh aja.” Zodi lagak menasehati.

“Iya, gue juga tau tapi bukan itu yang gue pikirin.”

“Apa dong?” serobot Zodi.

“Gue bingung Zod, gue udah lima kali pacaran tapi semuanya sama, cuma gitu-gitu doang, jalan bareng, nonton, mojok, curhat-curhatan, dua-duaan dan… pokoknya ngebosenin.”

“Jadi lo pengen yang lebih seru kaya ciuman atau anu-anuan?”

“Gile lo! Bukan itu tapi gue pengen yang beda, yang seperti… pokoknya gue belum tahu yang pasti hubungan yang benar-benar dengan atas dasar cinta.”

“Terus sekarang lo mau gimana?” Zodi mulai bingung.

“Mungkin gue nggak akan cari cewek lagi, sampai gue temuin yang gue cari.”

“Jombi dong alias jomblo abadi, hehehe…”

***

Setelah hari itu, memang tak ada yang berbeda dari Endri, siswa SMA yang duduk kelas dua ini. Tapi ia sedikit cuek pada cewek.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan bahkan kelas berganti kelas (kelas 2 ke kelas 3) dia lalui seperti biasa, tak ada yang berbeda. Apa yang ia cari belum ada jawabannya.

Suatu hari ia terlambat ke sekolah dan tak keburu ikut upacara bendera. Akhirnya ia dihukum nyiramin semua bunga yang ada di sekolah. Ia tak sendiri, Aisyah yang kebetulan terlambat juga ikut dihukum bersama Endri.

“Kenapa kamu telat?” Endri membuka percakapan, tapi Aisyah hanya diam menoleh dan meneruskan menyiram bunga. “Sekarang kamu pelajaran apa?” Endri nanya lagi, tapi Aisyah hanya tersenyum kecil. Ia tak menjawab. Melihat guru biologi masuk kelas Aisyah Endri nanya lagi, “Biologi yah?”

“Udah tau nanya.” Aisyah menjawab sinis.

Melihat teman sehukumannya begitu, hati Endri berkata, “Cuek banget nih cewek, mentang-mentang anak ustad sok alim.”

Mereka terus menyiram bunga dan hampir selesai.

Angin pun bertiup kencang tapi lembut membawa hawa kesegaran. Angin pun meraba seluruh tubuh Aisyah yang juga menikmati hembusan angin dengan mata terpejam. Begitu indah, wajah cantik yang terpejam dengan lembayung kerudung yang menambah keelokan disertai tarian dedaunan yang serempak.

“Cantik juga nih cewek…” sambil terbengong melihat Aisyah, Endri tak sadar bahwa ia sedang menyiram seorang guru yang ada di depannya.

“Hei… Endri! Berhenti-berhenti! Kenapa kamu siram Bapak? Lihat baju Bapak jadi basah!!!” sambil marah guru itu membanting siraman bunga yang ada di tangan Endri.

“Aduh maaf Pak, saya nggak sengaja. Maaf, maaf Pak”

Aisyah yang melihat kejadian itu tersenyum lebar dan pergi ke kelas karena sudah menyelesaikan pekerjaannya. Endri yang terpesona melihat senyuman itu tak sadar bahwa ia sedang dimarahi dan ia hanya berucap “Iya Pak 5x”

“Iya Pak Iya Pak, sudah pergi kamu ke kelas! Dasar kamu!”

“Sekali lagi maaf ya Pak!”

Setelah kejadian itu di pikiran Endri terus melintas sebuah senyuman yang mampu menggetarkan hatinya.

“Bengong aja lo! Ayam gue bengong kemaren mati.”

“Eh elo Zod.”

“Kenapa sih lo sejak tadi pagi bengong aja kerjaannya? Kesambet setan mana sih?”

“Bercanda aja lo! Oh iya Zod lo kenal nggak Aisyah?”

“Oh….. iya, kenapa?”

“Nggak, gue baru nyadar kalo dia tu cantik.”

“Ehh… ternyata ini to yang nyambet temen gue. Gini aja Ndri, lo suka ama anak ustad itu? Lebih baik lo lupain aja deh, percuma! Dia tuh alim banget, nggak mungkin diajak pacaran.”

“Lihat aja nanti.” Dengan optimis Endri berdiri dan mengambil tasnya. “Zod, semakin tinggi gunung semakin asik di daki. Jadi lo liat nanti.”

***

Semenjak itu Endri tertarik pada Aisyah, ia terus berusaha ngedeketin. Setiap istirahat ia masuk ke kelas Aisyah. Bila pulang ia selalu diam di depan gerbang untuk melihat Aisyah dan sering dia mengajak ngobrol tapi Aisyah mengacuhkannya. Banyak puisi yang ia kirim ke Aisyah tapi tak pernah ada tanggapan, hingga Endri kehabisan akal mendekatinya.

“Zod menurut lo kalo gue tembak aja Aisyah, gimana?”

“Hem… nembak? Becanda kali lo yah. Kalo lo berani nembak dia berarti lo gali lubang kuburan lo sendiri, ngarti?!!” Zodi menasehati.

“Ah elo Zod mendramatisasi banget. Walaupun gue dah lima kali pacaran tapi baru kali ini gue jatuh cinta dan gue akan memperjuangkannya.

Pas pulang sekolah Endri menyiapkan penembakannya. Ia menunggu Aisyah lewat pulang.

“Aisyah… maaf tunggu sebentar.” Endri menghentikan jalan Aisyah. “Ada yang mau aku omongin ama kamu.” Tapi Aisyah melanjutkan jalannya.

“Aisyah… bentar dulu please… deh, beberapa menit aja. Gini, aku mau bilang kalo aku cinta kamu dan mau nggak kamu jadi pacar aku?” sambil memberikan sebuah bunga, tapi Aisyah diam dan melanjutkan jalan.

“Aisyah, bentar dulu. Kenapa sih kamu cuek ama aku? Apa kamu benci aku? Aisyah, aku minta maag kalo aku punya salah sama kamu. Tapi apa salah kalo aku cinta ama kamu, sayang ama kamu, apa itu salah? Jujur aku ngerasain begini Cuma ama kamu.”

“Dri, kami nggak salah, aku nggak benci kamu. Aku mau jujur sama kamu aku juga sebenernya suka sama kamu.”

“Terus kenapa kamu menolak?” dengan kegembiraan di hati Endri menyerobot.

“Maaf, aku nggak mau pacaran karena itu hanya membuang waktu dan mengobral dosa, nggak ada mau pacaran.”

“Terus gimana dong?”

“Ya udah jalanin aja seperti biasa.”

“Tapi aku nggak bisa, aku sayang banget sama kamu.”

“Kalo kamu sayang sama aku please tunda dulu perasaan kamu sampai nanti Allah menakdirkan kamu melamar aku!” Endri hanya tersentak terdiam. Aisyah pun menunduk.

“Aisyah, rasa cinta ini tidak kecepetan datangnya. Tapi ini akan aku simpan dan aku pupuk hingga nanti aku siap melamar kamu. Mungkin nanti aku akan merasa rindu dan kangen sama kamu tapi itu akan kujadikan pemacu untuk menjaga cinta ini. Aisyah…, cuma satu yang kuminta darimu, kamu juga harus pertahanka rasa suka kamu padaku dan siap menunggu aku, sampai nanti waktu yang akan menjawab, apa kamu setuju?”

Sambil tersenyum dan mengangguk Aisyah meninggalkan Endri.

Dengan kegembiraan yang dahsyat Endri berteriak, “Aisyah, apabila kita bertemu aku mohon beri aku senyuman karena itu yang bisa membuat aku kuat!”

Setelah itu Endri lebih banyak membenahi diri dan terus berusaha mencapati citanya.

Dan hanya garisan Takdir Allah yang menentukan. Wasalam…

Perihal arief
Seorang Ilkomerz 45 IPB.... Seorang yang memiliki mimpi yang besar.... untuk membahagiakan keluarga, sahabat, dan...

2 Responses to Sebuah Senyuman

  1. anna mengatakan:

    pengalaman pribadi ripp??
    btw, ada yg kurang nh dari ceritanya..
    boleh aku poles??

  2. arief mengatakan:

    silakan dipoles apanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: