Gone


Kulirik jam tangan, astaga! Jarum pendek jam sudah berada tepat di angka dua. Itu berarti aku sudah berdiri di sini selama lebih dari empat jam.

“Dasar, kenapa ya…? gak biasanya dia ingkar janji?!” kataku dalam hati. Dengan lunglai akhirnya aku memutuskan pergi dari tempat yang sudah kami janjikan. Aku berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi karena aku sudah lelah menunggunya.

“Uh! Gagal sudah semua yang kurencanakan” umpatku.

***

“Kring… kring… kring…”

“Halo!” terdengar suara lembut di seberang sana.

“Halo! Tante, ini Rima. Renonya ada Tante?” tanyaku setelah mendengar suara di seberang sana.

“Reno? Tadi pagi dia pamit, katanya mau ketemu kamu.” Jawab ibu Reno ramah.

“Tadi pagi? Kok gak ketemu aku ya Tan?” tanyaku tuk kedua kalinya.

“Aduh… Tante kurang tau”

“Oh gitu… yaudah ga apa-apa deh, makasih ya Tan.” Kataku menutup percakapan kami.

Aduh Reno, kamu dimana sih?

***

Tiga hari telah berlalu setelah kejadian itu dan sampai hari ini Reno belum memberi kabar.

“Dew, aku bingung. Kemana sih Reno selama tiga hari ini? Aku ke rumahnya dia juga belum pulang, aku khawatir Dew, aku khawatir.” Akhirnya aku tidak sanggup menahan air mata ini.

“Sabar Rim, mungkin Reno hanya ingin sendiri.” Hibur Dewi, teman baikku.

“Menyendiri? Sampai gak pulang tiga hari. Apa itu gak keterlaluan?” kataku protes.

“Ya… mungkin aja kan! Itu Cuma perkiraanku aja.” Jelas Dewi.

“Tapi Reno gak biasa kaya gini, perasaanku gak enak selama kepergian Reno. Aku takut terjadi sesuatu pada Reno, aku takut…” tangisku semakin menjadi-jadi. Kuluapkan semua resah dan ketakutanku di pelukan sahabatku.

***

Seminggu telah berlalu, kami semua semakin panik. Keluarga Reno sudah menghubungi pihak berwajib, tapi masih belum ada kabar tentang kepergian Reno.

Aku sudah tidak bisa konsentrasi dengan semua kegiatanku karena semua pikiranku sudah tertarik kepada masalah Reno. Sepertinya ada magnet antara pikiranku dengan Reno. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, yang kutahu… aku serasa terhimpit oleh empat dinding yang semakin menyempit detik demi detik. Kalau bisa aku ingin lenyap dari dunia ini untuk sementara waktu dan ketika aku kembali semua sudah kembali seperti semula.

“Reno, kamu dimana sih…” itulah pertanyaan sama yang selalu aku ucapkan setiap jam, setiap menit, setiap detik dan di setiap tarikan nafasku.

“Rima sayang… kamu harus sekolah, kamu lupa kalau hari ini kamu ujian. Mamah mohon sayang, kamu jangan terlalu larut dalam masalah ini, oke!”

Dengan gontai aku pergi ke kamar mandi, ku ganti piama merah jambuku dengan seragam dan akhirnya aku pergi walaupun hanya dengan setengah hati.

***

“Rima!” kudengar ada seseorang yang memanggil, ketika kumelihat ke arah suara itu, aku menemukan orang tuaku dan orang tua Reno ada di depan kelasku.

“Rima, kamu boleh pulang duluan, kamu bisa ikut ujian susulan nanti.” Kata Bu Ary setelah meminta izin kepada pengawas.

Dengan bingung aku menyandang tas di bahu dan beranjak dari kursi untuk menemui orang tuaku. Setelah berpamitan kepada wali kelas, aku pergi.

***

Dari mobil kupandangi pepohonan yang sudah mulai berubah warna. Suara ibuku memecah lamunanku, “Rima, ayo sayang… kita sudah sampai!” ajak ibuku.

Aku turun dari mobil dan ketika melihat ke sekitar, ternyata aku berada di salah satu Rumah Sakit besar di Jakarta. “Siapa yang sakit?” pikirku dalam hati.

Aku berjalan dengan perasaan bingung, ketika aku sadar aku sudah tiba di sebuah tempat dan aku membaca tulisan yang berada di atas pintu. “Astaga..!! Ada apa ini? Kenapa aku dibawa ke tempat seperti ini?” pikiranku tak dapat menemukan jawaban atas pertanyaanku.

Tidak lama kemudian pintu pun terbuka dan aku diajak masuk ke tempat itu. Disana banyak tubuh kaku tertidur di atas tempat tidur yang terbuat dari besi. “Aku takut.” Pikirku dalam hati.

“Rima, kamu harus tabah sayang…” kudengar suara ibu Reno bergetar.

Kudekati tempat tidur yang ditunjuk oleh ayah Reno. Tempat tidur itu berada di ujung ruangan, dengan takut aku menghampiri dan aku melihat siapa yang sedang tertidur dengan pulas di situ.

“Tidakkk!!!” Teriakku histeris dan dalam sekejap pandanganku menjadi gelap dan…

“Rima… Rima… bangun sayang…!” pinta ibu dengan suara yang gemetar.

Akupun terbangun setelah kurasakan tangan lembut dan hangat menyentuh pipihku. Kubuka mataku yang berat, kurasakan letih di sekujur tubuh seakan aku baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan baru kutemukan jalan pulang.

“Mamah…. Mamah…” Aku menangis di pelukan ibu.

***

“Tabah ya Rim, kita tak bisa berbuat apa-apa karena ini sudah menjadi tulisan Yang Maha Kuasa.” Hibur Dewi, tapi itu tidak bisa mengurangi rasa sedihku yang melihat tubuh Reno terbujur kaku dibalut kain kafan di hadapanku.

Orang yang paling kusayang kini telah hilang, orang yang kukasihi telah pergi menghadap Ilahi. Sungguh kejam orang yang tega melakukan ini kepada Reno. JAHAT… JAHAT… JAHAT…

“Pak, sudah waktunya dimakamkan.” Kata seorang pemuda.

Ayah Reno menganggukan kepalanya tanda setuju. Tubuh Reno diangkat dan…

“Astaga! Apa yang terjadi pada tubuh Reno? Reno yang tingginya sekitar 180 meter kini terlihat seperti anak umur 10 tahun. Dimana tubuh Reno yang sebagian lagi?” Tanyaku dalam hati.

Semua mata tertuju pada tubuh Reno yang sedang diangkat, kulihat ibu Reno menangis di pelukan ayah Reno. Suasana haru mewarnai prosesi pemakaman Reno.

“Ya Tuhan… apakah kesalahan Reno sehingga Kau menghukum dia seperti ini, ini sungguh tidak adil!” Hanya itu yang dapat kuucapkan dalam hati saat tubuh Reno dimasukkan ke liang lahat.

***

Setelah pemakaman selesai, aku kembali ke rumah Reno dan disana sudah ada polisi.

“Selamat sore Pak, kami sudah dapat kepastian tentang pembunuh Reno dan ternyata dia adalah seorang buronan yang sedang kami cari-cari. Dia senang memotong tubuh korbannya hanya untuk kesenangan belaka.” Jelas Polisi.

Aku tak sanggup mendengar penjelasan dari polisi. Mutilasi masih ada di zaman seperti ini dan enapa yang harus mengalaminya adalah Reno, kenapa Ya Tuhan?

Aku tak tahu apa yang akan kulakukan bila aku bertemu dengan penjahat yang sudah berlaku keji pada Reno. Kurasakan pandanganku buram dan sesaat kemudian aku sudah tidak dapat mendengar atau melihat apa-apa lagi.

Hana Nurul Ilhami

Perihal arief
Seorang Ilkomerz 45 IPB.... Seorang yang memiliki mimpi yang besar.... untuk membahagiakan keluarga, sahabat, dan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: