>Satu Cerita Masa Lalu


>

Waktu ku tulis artikel ini, aku berada di ruang tamu. Di sini terdapat sofa, meja, sepeda, sepeda motor dan akuarium serta telpon. Sepeda yang kumaksud umurnya sudah cukup tua. Dahulu, waktu ku masih kecil sepeda itu milik pamanku yang umurnya 7 tahun lebih tua dariku. Pamanku itu lahir tanggal 25 Januari 1983, sedangkan aku lahir tanggal 25 Januari 1990. Tepat 7 tahun perbedaan usianya. Pamanku bernama Ucu Sukarna.

Entah kenapa ku memanggilnya dengan sebutan “A Encu”, padahal dia itu kan paman, bukan Aa. Ku juga memanggil adik ibuku dengan sebutan “Teteh”, bukan Bibi yaitu Teh Dede dan Teh Ii. Begitulah, dari kecil ku sudah terbiasa memanggil mereka seperti saudara.

Tapi lain dengan saudara Bapakku. Aku memanggil mereka “Mamang”, “Bibi”, “Ua”, beda dengan saudara ibuku.

Waktu ku masih kecil, ku sering bermain ke Cibata. Di sana itu tempat tinggal kakek dan nenek dari ibuku. Rmmah mereka adea di Gunung Suling. Rumahnya terpencil, tidak ada rumah lain di situ.

Waktu itu aku sering bermain dengan sepupuku, Aditya. Dia anak dari bibiku yang sering kupanggil “Teh Dede”, dia adik ibuku. Aku dan sepupuku sangat menyayangi A Encu, dia orangnya baik dan asik. Motivasi kami nginep di rumah kakek-nenek itu dia.

Kami sering bergulat, main petak umpet, bahkan sampai berburu pake senapan angin.

Di kamar depan rumah, ada tempat tidur tingkat. Ku dan sepupuku serta adikku sering menjadikan tempat tidur itu sebagai mainan pesawat ruang angkasa. Kami pura-pura mengendalikannya. Bahakan kami menghayal kapal itu jatuh ketika ditembak musuh. Sering pula tempat tidur itu dianggap perahu. Kadang ku jadi buaya yang memakan adikku atau sepupuku.

Seiiring berjalannya waktu, kami lebih bahagia dengan sepupu baru yang sudah mulai besar. Fitri dan Dinda, mereka adalah kakak beradik yang usianya kurang lebih 2 tahun. Mereka anak dari bibiku yang sering kupanggil “Teh Ii”. Mereka tinggal di Tangerang, kalau hari libur mereka suka nginep.

Kalalu musim kemarau kami suka mandi di pancuran yang letaknya agak jauh dari rumah nenek, kurang lebih 400 meter ke dataran yang lebih rendah. Di sana ada 2 empang dan ada pohon jambu. Kami sering naik ke pohon itu dan mencari buah yang matang atau setengah matang.

Saat itu merupakan saat terindah.

Menginjak kelas 5 SD, ku mulai sibuk dengan les dan eskul. Tapi tetap ku sering janjian dengan sepupu untuk nginep di rumah kakek-nenek.

Kakek dan nenek sangat senang kalalu kami nginep di rumah mereka walaupun suka merepotkan. Di bagian belakang rumah dijadikan tempat mengajar ngaji oleh nenek, pamanku juga suka bantu ngajarin.

Di situ terdapat meja yang lebih mirip kursi panjang untuk anak-anak yang mengaji. Aku dan sepupuku sering menyusunnya menjadi semacam jalan berliku mencari jalan. Tentu saja kami melakukannya sebelum anak-anak pengajian datang di sore hari.

Waktu kelas 6 SD, kakekku sering sakit. Beliau sering dirawat di Rumah sakit hingga akhirnya waktu ku kelas 1 SMP, ku dipanggil pulang saat belajar.

“Kakekmu meninggal”, kata Pak Sugondo.

Segera ku beranjak ke rumah. Ternyata jenasah kakek masih ada di Jakarta. Sampai sini ku nggak bisa nyeritain lagi sampai proses pemakamannya:(

Yang ingin ku ceritakan kakekku sangat baik, beliau suka memberikan mainan kalau pulang dari Jakarta (ngambil uang pensiun). Beliau itu mantan ABRI, temen Jendral Nasution. Makanya anaknya diberi nama Sukarna, yang artinya Sukarno tapi orang Sunda coz akhiran -a itu biasanya orang sunda. Kami sekeluarga ngerasa kehilangan banget atas kepergiannya. Tapi itulah ketentuan Allah, kita juga akan menyusulnya, hanya tinggal menunggu waktu yang sudah ditetapkan.

Setelah itu hubungan kami mulai renggang, bukan karena kakek meninggal tapi karena kami tumbuh besar. A Encu kuliah dan jarang pulang, sekarang dia sudah kerja. Aku sendiri sibuk dengan eskul yang ada di sekolah. Sepupuku sempat mesantren dan sekarang sudah pindah ke Sekolah Aliah. Kami sudah lama tidak ngobrol-ngobrol lagi. Dengan Fitri dan Dinda pun jarang ada canda lagi. Ya, begitulah kalau sudah dewasa, keadaan akan lain. Kini kita sudah dihalangi jarak dan waktu. Mungkin memang seharusnya begini. Apakah mungkin kami bisa berkumpul lagi? Entahlah. Namun ku tetap mengharapkan kebahagiaan masa lalu dapat kembali hadir menemani hidupku. Ku yakin ada suatu tempat dimana kami dapat berkumpul dengan bahagia selamanya, tempat itu adalah Syurga. Semoga kita terpelihara dari api neraka sehingga bisa menikmati Syurga. Amin.

Begitulah, berawal dari kata sepeda bisa berkembang menjadi cerita masa lalu. Itulah keadaan kalau sedang menulis, dapat dengan mudahnya mengalir kata-kata asal kita mau memulai. Jadi, buat temen-temen yang membaca teks ini cobalah menulis, nulis apa aja. Ntar juga ide mah datang sendiri.

Perihal arief
Seorang Ilkomerz 45 IPB.... Seorang yang memiliki mimpi yang besar.... untuk membahagiakan keluarga, sahabat, dan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: