Teruntuk Mawar Putihku (Isteri Tercintaku)
4 April 2011 Tinggalkan Komentar
Aku menjadi sangat bersyukur saat meminangnya dan mengucapkan kalimat pengikat hati. Aku menjadi seorang suami yang beristrikan wanita sholehah seperti Aisyahnya Nabi, cantik, cerdas. Ditambah lagi dia bisa menjaga kesetiaan cinta kami dan menjaga dirinya di saat aku tak berada di sampingnya untuk waktu yang tidak sebentar. Saat pekerjaan mengharuskanku pergi meninggalkannya jauh dari rumah kecil yang kami tinggali.
Saat-saat bahagia itu terus tumbuh seperti bunga mawar putih kesukaanya, indah, semerbak dan enak dilihat hati kami. Memberikannya hadiah bulan madu di tanah suci seperti janji kami dulu saat berpacaran. Aku sangat menyayanginya seperti Rasulullah menyayangi Aisyah, memanjakannya dan menjadi sandaran ketika dia menangis. Tak jarang kami dikatakan pasangan serasi oleh mata yang memandang, wajah kami nyaris mirip begitu kata-kata mereka yang aku ingat. Bahkan teman-teman kulahku dulu menyangsikan keromantisanku, meski aku pernah memiliki mantan, tapi perlakuanku tak sama seperti aku memanjakan istriku.
*****
LIMA TAHUN PUN BERLALU
Keharmonisan rumah tangga kami menjadi momok tersendiri di kalangan keluargaku, kehadiran seorang anak selalu dinantikan mama dan papa. Buatku hadiah terindah dari sebuah pernikahan tidak hanya seorang anak, tapi cinta kasih dan ketenangan yang paling penting. Anak itu titipan dari Allah, mungkin saja Allah belum percaya dengan kami atau kami sedang diuji kesabarannya dan bisa jadi Allah senang melihat kasih sayang kami yang tak pernah putus.
Aku tak pernah tahu pandangan sinis mama dan Dian, adik semata wayangku itu ditujukan untuk istriku, kupikir hanya suudzon belaka yang kadang ku sepelekan begitu saja. Memikirkan hal yang positif akan membuat hidup jadi bermanfaat dan tak ada lagi keresahan dengan sikap orang lain terhadapku. Fisya, istriku, selalu tersenyum dan tak kulihat sinar kesedihan yang mengelayuti wajah ayu nya. Dia selalu menjadi penawar hidup di kala susah, pengobat rindu di kala ingin bertemu dan menjadi sandaran jiwa ketika lelah dan tak bertenaga.
Komentar Terbaru